UK….I Miss You!

Sejak lahir sampai sekarang, saya tinggal di Jakarta…berarti sudah lebih dari 40 tahun saya menjadi warga Jakarta….kecuali selama satu tahun di periode 1997 – 1998,  saya mendapat kesempatan emas untuk menjadi warga Inggris…tepatnya warga Manchester atau biasa dikenal sebagai ‘the Mancunian’. Saya sebut sebagai kesempatan emas…karena saya tinggal dan bersekolah di Inggris dengan gratis! Saat itu saya mendapatkan beasiswa dari The British Council untuk kuliah S2 di sana (thank you so much, British Council!).  Penerima beasiswa bebas memilih mata kuliah dan tempat kuliah yang diminati di salah satu perguruan tinggi di Inggris dan takdir membawa saya sampai ke Manchester.

Kartu Mahasiswa dan Kartu Perpustakaan

Setelah kembali dari Inggris di bulan September 1998, saya belum pernah balik lagi ke Inggris. Enam belas tahun telah berlalu dan tiba-tiba saya kangen berat untuk kembali ke tanah Britania Raya setelah melihat di blog  tetangga, ada Mister Potato mengadakan ‘blog contest’ dengan hadiah utama #InggrisGratis….! Wow!!! Apa yang membuat saya kangen dengan Inggris? Banyaaak…. Karena kompetisi “Ngemil Eksis Pergi ke Inggris” ini tujuannya ke 7 ikon Inggris atau 7 Stadion Legendaris Inggris, maka berikut saya sajikan 7 hal yang bikin saya kangen dengan Inggris.

  1. Saya kangen dengan cuaca Inggris….

“How’s the weather today?” adalah topik pembicaraan paling populer untuk membuka percakapan di Inggris. Cuaca di sana sangat tak menentu, sebab itu warganya banyak berpegang pada kecanggihan ramalan cuaca untuk menentukan kegiatan sehari-hari. Bagi saya yang selama ini tinggal di Jakarta dengan alternatif cuaca hanya panas atau hujan (meski hujan, tetap saja panas juga), rasanya seru banget untuk merasakan kedinamisan cuaca di Inggris.

Saya beruntung sempat merasakan keempat musim yang menjadi kekhasan negara-negara Barat. Musim gugur dengan warna-warni yang indah, musim dingin dengan es dan salju yang sebelumnya hanya ada di angan saya, musim semi yang ‘menumbuhkan’ berbagai bunga dan tanaman baru dan musim panas yang benar-benar panas. Selain memiliki empat musim, sebagai negara yang berbentuk pulau dikelilingi oleh lautan, Inggris terkenal dengan anginnya yang kencang, bukan angin puyuh tentunya tapi cukup membuat kita berjalan sempoyongan. Meskipun saya sempat juga mengeluh mengenai cuaca di sana (seperti yang sering dikeluhkan juga oleh orang-orang lokal), saat ini saya ingin menikmati kembali cuaca Inggris yang penuh drama itu.

  1. Saya kangen dengan “British accent”….

Saya sudah belajar Bahasa Inggris sejak kelas 2 SD, nilai Bahasa Inggris saya di raport selalu bagus dan sebelum saya berangkat ke Inggris pun saya mengikuti kelas persiapan Bahasa Inggris, tapi ketika saya berhadapan dengan supir bis di Manchester…saya ternyata tidak mengerti apa yang dikatakannya dan dia juga tidak mengerti pertanyaan saya…ooooh….saya sempat ‘shock’ menghadapi kenyataan itu. Baru setelah beberapa minggu beradaptasi dengan aksen lokal, saya merasa nyaman berkomunikasi dengan warga lokal.

Ternyata belajar “listening” melalui bintang-bintang film Inggris seperti Mr. Bean alias Rowan Atkinson (yang bicaranya memang minim), James Bond dan Hugh Grant (my favourite British actor) tidak terlalu banyak membantu karena yang saya hadapi sehari-hari di sana adalah warga lokal, bukan bintang film internasional.

Meskipun banyak orang bilang agak sulit memahami aksen Inggris, bagi saya, “British accent” lebih sexy daripada “American accent”…meski yang bicara seorang supir bis sekali pun.

  1. Saya kangen belanja di Inggris….

Sebagai ‘anak beasiswa’ di Inggris, apalagi mengajak suami (padahal jatah tunjangan hidup hanya untuk satu orang), keadaan ekonomi saya di sana masuk dalam kategori ‘mepet banget’. Tentunya, saya pernah berkunjung ke Harrods dan Baker Street yang menjadi icon tempat belanja di London atau ke Debenhams yang waktu itu belum ada di Jakarta, tetapi saya lebih kangen berbelanja di pasar-pasar ‘tradisional’ di Inggris.

Saya kangen ke pasar barang-barang ‘second hand’ yang menjual mulai dari TV bekas sampai peralatan makan. Saya kangen bertemu pedagang di pasar lokal yang harga barangnya bisa ditawar-tawar (maklumlah…perempuan di mana saja suka menawar). Saya kangen ke toko agen koran dan majalah yang sudah hafal dengan koran kesukaan suami saya dan selalu memberi harga ‘khusus mahasiswa’ buat kami.

Dunia ritel tradisional Inggris lebih menarik bagi saya karena bisa mempertemukan saya dengan ‘the real British’, tidak terjebak dengan konsumerisme yang utamanya diciptakan untuk menarik turis berbelanja.

  1. Saya kangen dengan berita selebriti Inggris…

Media Inggris sama seperti media di negara mana pun, termasuk di Indonesia, senang memberitakan kabar selebriti. Di tahun ’97-an itu…berita terheboh antara lain tentang kisah asmara antara David Beckham dan Victoria “Posh” Spice Girl. Maklumlah, mereka berdua memang sedap dipandang mata dan sedang ngetop….Manchester United dan Spice Girls benar-benar sedang berkibar jaya pada masa itu. Pemberitaan tentang mereka selalu jadi hiburan buat saya. Sampai sekarang, saya masih belum ‘move on’ dari “The Beckhams”. Meskipun mereka tidak muda lagi, berita tentang mereka tetap menarik bagi saya.

The Royal Family juga tergolong ‘selebriti’ di Inggris. Berita kecelakaan maut Princess Diana di Paris pada tahun 1997 itu menjadi berita utama terus-menerus di semua media di Inggris. Kebetulan sekali saya berada di London pada saat Inggris berduka. Saya masih terkenang dengan atmosfir duka cita yang mendalam dari rakyat Inggris yang tumpah ruah di jalan-jalan utama London. Di depan gerbang utama Buckingham Palace, Kensington Palace (kediaman Princess Diana) dan di Harrods (toko milik keluarga kekasih Princess Diana), ribuan karangan bunga diletakkan warga Inggris.

Suplemen khusus harian "The Mirror" tahun 1997
Suplemen khusus harian “The Mirror” tahun 1997

Karena nge’fans’, saya masih menyimpan beberapa majalah edisi khusus tahun 1997 yang menulis tentang Lady Diana, saya juga membeli perangko edisi Princess Diana yang menjadi salah satu koleksi favorit saya sampai sekarang.

  1. Saya kangen dengan denyut Liga Inggris….

“Waaah….asyik banget kuliah di Manchester….bisa nonton bola terus…” itu adalah komentar yang sering saya terima dari kenalan ketika tahu bahwa saya (pernah) tinggal di Manchester. Kenyataannya, ketika saya pergi ke Manchester, saya bukanlah penggemar bola…nggak ‘ngerti’ aturan main bola dan nggak kenal nama-nama pemain Manchester United (kecuali David Beckham, karena dia ganteng). Namun setelah beberapa bulan tinggal di Manchester, perlahan tapi pasti, “jiwa” bola itu masuk ke dalam diri saya. Bola bukan saja permainan 90 menit di lapangan hijau…it’s much more than that! Melihat para fans MU bergerombol di jalanan di hari-hari pertandingan, lengkap dengan “yell-yell” dan pakaian unik, terus-terusan melihat pemberitaan tentang liga Inggris di media massa dan ikutan nonton bola di TV bersama suami, akhirnya membuat saya jatuh cinta pada bola, khususnya dengan club Manchester United.

Prestasi Manchester United di musim 1997 – 1998 tergolong biasa saja, tapi bagi warga Manchester (termasuk saya waktu itu dan sampai sekarang)…. Manchester United is always in our heart (waktu itu Manchester City belum bermain di divisi utama).

Meski tinggal di Manchester selama setahun, nyatanya, saya hanya pernah satu kali mengunjungi markas Manchester United di Old Trafford atas undangan pemberi beasiswa, British Council untuk sebuah acara mereka. Acaranya diadakan di malam hari dan sayang sekali, kami tidak diajak melihat ke lapangannya. Gemes juga rasanya diundang ke Old Trafford tetapi tidak melihat lapangannya, tetapi apa daya…ketika itu pun, ticket masuk menonton pertandingan di Old Trafford sudah mahal.

Sekarang, saya sudah jadi ibu dari dua anak, yang besar perempuan (14 tahun) dan yang kecil laki-laki (13 tahun). Anak laki-laki saya gemar main bola dan senang nonton pertandingan bola. Sejak dia mulai bermain bola di usia 7 tahun….sudah saya ‘brainwash’ untuk menjadi fans Manchester United. Meski dia bertumbuh menyukai beberapa team lainnya…tetap saja saya belikan atribut Manchester United.

Koleksi Jersey MU milik anak saya :-)
Koleksi Jersey MU milik anak saya 🙂

Jadi, kalau Mister Potato berkenan mengajak saya jalan-jalan ke Old Trafford, saya bisa menuntaskan keinginan saya yang belum kesampaian yaitu melihat lapangan bola Old Trafford (semoga kali ini diajak melihat lapangannya)…waaaah, it’s one of my dream!

  1. Saya kangen dengan kuliner Inggris….

Kalau dalam hal keragaman makanan, masakan Indonesia masih lebih bervariasi dibanding Inggris. Bagi saya, ‘fish and chips’ adalah ‘icon’ makanan Inggris. Kepopulerannya mungkin bisa disamakan dengan pecel lele-nya Jakarta, tetapi yang saya “kangenin” dari Manchester adalah makan ‘pie’ (di sana disebut ‘pasty’) di pinggir jalan, apalagi di musim dingin. ’Pie’ yang masih hangat mengepul di suhu yang dingin lalu langsung kita makan, bikin badan jadi hangat sungguh sensasional! Antrian di tempat ‘pie’ favorit saya selalu panjang, tetapi saya selalu rela mengantri.

Suami dan saya juga punya tempat langganan pizza murah-meriah…cuma 2 poundsterling untuk seloyang pizza. Juru masaknya juga sudah hafal dengan pesanan favorit kami: Prawn and Cheese Pizza dan kami selalu minta agar pizzanya dipanggang sampai garing sekali. Mereka menggunakan oven tungku dan kulit pizza-nya tipis. Di restaurant mungil itu juga tersedia sambal yang enak…saya tidak suka pedas, tapi suami saya kangen pedas selama tinggal di Inggris dan sambal pizza ini lumayan enak.

Orang Inggris suka sekali makan ‘chips’….kripik kentang, seperti Mister Potato dan saya ‘ketularan’ kebiasaan ini. Apa pun makanannya, saya selalu tambahkan chips…makan roti pakai chips, makan sup pakai chips, makan pisang pakai chips…. Pokoknya pengalaman makan apa pun jadi tambah menyenangkan jika ada chips-nya.

Satu lagi ‘tradisi’ Inggris yang terbawa terus sampai sekarang adalah minum teh! Orang Inggris sangat gemar minum teh, biasanya dengan susu. Jenis tehnya sangat bervariasi, tetapi kegemaran kami adalah “English Breakfast Tea” (biasa disingkat ‘EBT’). Susu harus dituangkan terlebih dahulu ke cangkir teh, barulah teh panas dituangkan sehingga paduan rasa susu dan teh menjadi optimal…begitulah yang saya pelajari dari orang lokal. Bagi orang Inggris, minum teh adalah kegiatan sosial, sambil duduk ngobrol dengan keluarga atau teman menikmati secangkir teh dan biskuit. Oooh…it’s so British!

  1. Saya kangen almamater saya….

“Last but not least”….setelah lulus S2 enam belas tahun yang lalu, tentu saya kangen untuk mengunjungi kembali kampus saya di Manchester yaitu di University of Manchester. Kampusnya terletak di Oxford Road, dengan gedung-gedung kampus yang antik di sisi kiri dan kanan jalan. Kampusnya tidak mewah tapi ‘homy’ dan fasilitasnya lengkap.

Cikal bakal universitas ini sudah dibangun di tahun 1851 dan terus diperluas dengan menggabungkan beberapa institusi pendidikan lainnya di Manchester. Bangunan-bangunan tua tetap dipertahankan sampai sekarang sehingga kompleks kampus ini juga merupakan ‘icon’ kota Manchester.

 

Nah…ketujuh hal di ataslah yang bikin saya kangen dengan Inggris…. Hal-hal kecil dari keseharian saya dan suami selama setahun tinggal di Manchester selalu menjadi kisah manis kami berdua dan sekarang sering kami ceritakan kepada kedua anak kami.

Buat saya, Inggris bukanlah sekedar tujuan wisata tetapi sumber inspirasi yang tiada habisnya.

Bersama Mister Potato kembali ke Inggris
Bersama Mister Potato kembali ke Inggris

“UK….I really miss you!”

 

Tulisan ini diikutsertakan pada ‘blog contest’ “Ngemil Eksis Pergi ke Inggris” dari Mister Potato Indonesia.

Follow twitter-nya di @MisterPotato_ID dan kunjungi Fanpage-nya di Mister Potato Indonesia

Menyantap Hidangan ala India di Curry Gardenn

Ketika suami dan saya mengunjungi PasarBella di The Grandstand (www.thegrandstand.com.sg), kami memilih untuk makan siang di luar PasarBella. Ada beberapa pilihan tempat makanan di The Grandstand, mulai dari masakan Chinese, Thai, Korea, Japanese dan India. Setelah sebelumnya kami makan ala local Singapore dan Western, siang itu kami sedang ingin makan ala India!

Mampirlah kami ke “Curry Gardenn” yang berada di South Grandstand. Tulisan “garden” di nama restaurant ini memang dengan dua huruf ‘N’. Tampaknya restaurant ini cukup populer di kalangan warga keturunan India karena pada Hari Sabtu siang itu, restaurant tampak penuh dan banyak warga keturunan India yang makan di sana. Asumsi saya, rasanya pasti authentic India. Suami dan saya terkadang memang kangen dengan rasa kari yang mantap dan hal ini biasanya bisa kami peroleh di resto makanan India.

DSC09171
Tampak Depan Curry Gardenn

Curry Gardenn menyajikan hidangan India Utara dan Selatan. Bagi yang paham masakan India, memang ada perbedaan gaya memasak antara berbagai bagian di India…karena wilayah negaranya luas. Miriplah seperti ‘dapur Nusantara’ yang juga bervariasi tergantung wilayahnya.

Pesanan kami di Curry Gardenn:

Prawn Chilli: SGD 9.50, Naan Set Meal: SGD 6, Plain Prata: SGD 2 (maksudnya untuk dimakan dengan Prawn Chilli) dan Papadam: SGD 1 (Papadam adalah krupuk ala India).

Untuk minumnya, kami memesan Tea Limo Ice: SGD 2 dan Teh O Ice: SGD 1.

Totalnya SGD 23 ditambah Service Charge 10%, jadi SGD 25.30 untuk kami berdua.

Selain dari makanan yang ada di menu, tampaknya anda juga bisa memilih langsung dari makanan jadi yang ada di display mereka.

DSC09169
Pilihan makanan jadi

Penghargaan dan publikasi mengenai restaurant ini dipajang di depan pintu masuk sehingga pengunjung “awam” seperti kami bisa mendapat gambaran tentang popularitas restaurant ini.

Suasana restaurant cukup penuh tetapi tidak padat. Gayanya casual, santai dan cocok untuk makan bersama keluarga (jika semuanya suka dengan masakan India).

DSC09168
Suasana Curry Gardenn

 

Alamat Curry Gardenn:

200 Turf Club Road, #01-06

Singapore 287994

http://www.currygardenn.com

 

“Trash Management” in Singapore

Saya kagum dengan kebersihan kota Singapura. Begitu banyak orang berada di jalanan sambil makan dan minum, tapi kotanya tetap bersih. Pengaturan pembuangan sampah di lokasi umum juga tampaknya dipatuhi warganya.

Tidak hanya di jalanan, transportasi umum di Singapore juga bersih. Larangan untuk makan dan minum di dalam kendaraan umum sangat dipatuhi warganya (dan juga turis), mungkin karena ancaman denda tinggi tetapi bisa jadi karena kesadaran warganya akan kebersihan sudah tinggi.

Saya sempat mengamati seorang ibu yang bepergian bersama anak balitanya di dalam MRT. Tak sengaja, anaknya menjatuhkan selembar tissue ke bawah bangkunya. Si Ibu yang melihat tissue terjatuh, langsung menyuruh anaknya untuk memungut tissue itu dan menyimpannya dulu di dalam tas si anak karena tidak ada tong sampah di gerbong MRT. Jelas terlihat bahwa kebiasaan baik untuk “membuang sampah pada tempatnya” sudah mendarah daging di warga Singapore dan diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya.

Kapan ya Jakarta bisa sebersih Singapura?

Mencari Pedang “Minecraft” di Singapura

Saya sudah ceritakan perburuan saya mencari titipan Devani yaitu sepatu “Keds” koleksi Taylor Swift. Sekarang, saya mau cerita tentang titipan anak kedua saya….Maxi…remaja laki-laki yang hampir berusia 13 tahun.

Seperti banyak teman-teman sebayanya, Maxi adalah penggemar “Minecraft” (www.minecraft.net). Gambaran umum game ini yang saya ambil dari website mereka adalah sebagai berikut:

“Minecraft is a game about breaking and placing blocks. At first, people built structures to protect against nocturnal monsters, but as the game grew players worked together to create wonderful, imaginative things.

It can also be about adventuring with friends or watching the sun rise over a blocky ocean. It’s pretty. Brave players battle terrible things in the Nether, which is more scary than pretty. You can also visit a land of mushrooms if it sounds more like your cup of tea.”

Dalam dunia Minecraft, hanya ada satu bentuk yaitu kotak/blok sehingga semua hal diciptakan dengan menyusun blok tersebut. The possibilities are endless….pemain bisa menciptakan apapun yang ada dalam imajinasi mereka. Karena permainan ini sangat melatih kreativitas pemainnya, maka saya tidak berkeberatan jika Maxi main “Minecraft”.

Seperti yang dijelaskan di cuplikan dari website, “Minecraft” ini juga merupakan permainan petualangan, jadi ada banyak peralatan (tools) yang bisa dipakai dalam petualangan di antaranya yaitu pedang (sword) dan kampak (axe). Nah, titipan Maxi adalah….pedang “Minecraft”! Hmmm….mungkin agak aneh bagi anda (juga aneh bagi saya), tapi pedang “Minecraft” benar-benar jadi idaman Maxi. Pedang itu terbuat dari ‘foam’ (mirip styrofoam, tapi sedikit lebih kokoh) sehingga tidak akan membahayakan orang lain.

Menurut hasil googling sebelum berangkat ke Singapore, pedang “Minecraft” dijual di toko “Epic Loot” (https://www.facebook.com/epicloot.com.sg) yang berlokasi di Funan Digitalife Mall. Tidak ada toko lain di Singapore (menurut googling lho) yang menjual pedang “Minecraft” secara langsung. Anda memang bisa membelinya via online shopping , tapi mumpung saya ke Singapore, saya bermaksud membelinya di toko saja.

Hari pertama saya di Singapore, saya langsung menuju Funan Digitalife Mall. Naik MRT, berhenti di MRT Station City Hall. Saya cukup familiar dengan daerah ini karena beberapa kali pernah menginap di sekitar City Hall. Dari MRT City Hall, hanya perlu berjalan sedikit saja menuju ke Funan Digitalife Mall.

Sesuai namanya, Funan Digitalife Mall adalah pusatnya barang-barang elektronik…gadgets. Namun di Lantai 5 mall tersebut, ternyata ada beberapa toko khusus yang menjual barang-barang yang berhubungan dengan computer games. Bila anda atau anak anda adalah penggemar computer games dan senang mengumpulkan pernak-perniknya, saya sangat merekomendasikan mall ini.

Saya sangat lega ketika masuk ke “Epic Loot” langsung melihat sword dan axe “Minecraft” dipajang di depan, dekat pintu masuk toko. Sebenarnya ada 5 macam pedang/kampak dalam “Minecraft” sesuai dengan material yang terdapat dalam game tersebut yaitu untuk mengolah Wood, Stone, Iron, Gold, Diamond tetapi ketika saya ke sana di akhir Bulan April 2014 lalu, hanya ada pedang dan kampak untuk Diamond…warnanya kebiruan. Harga pedang dan kampaknya sama…SGD 35 per item.

IMG-20140425-01787
Inilah pedang Minecraft untuk Diamond, terbuat dari foam

Langsunglah saya minta penjaga toko untuk mengambilkan pedang yang baru, yang bukan barang display. Ternyata ukurannya cukup besar, tetapi saya yakin muat di dalam koper saya. Karena bahannya dari ‘foam’, pedang ini sama sekali tidak berat dan saya yakin tidak akan menimbulkan masalah di imigrasi karena tidak akan diduga sebagai senjata beneran.

Selain dari pedang dan kampak, di “Epic Loot” juga ada barang-barang koleksi “Minecraft” dan beberapa computer game lainnya. Sebenarnya saya juga ingin membelikan T-shirt Minecraft, tetapi setahu saya, cukup banyak yang menjual T-shirt Minecraft melalui online shopping di Indonesia.

DSC09113
Entrance Epic Loot

Selain “Epic Loot”, di Lantai 5 Funan Digitalife Mall ini juga ada beberapa toko pernak-pernik computer games lainnya. Namun memang tidak ada toko lain yang menjual koleksi “Minecraft”.

DSC09112

Display di toko La Tendo

DSC09115
Rapid Culture yang juga menjual koleksi pernak-pernik computer games
DSC09114
Display di salah satu toko barang computer games

 

Jika anda penggemar “Minecraft” atau ingin tahu seperti apakah “Minecraft” itu, silakan mampir ke youtube channel Maxi di link berikut ini:

http://www.youtube.com/user/MaxiGX7

 

Alamat Epic Loot:

109 North Bridge Road, #05-47, Funan Digitalife Mall, Singapore 179097. Telephone: +65 93879522

PasarBella….Pasar yang Cantik

Kalau anda sudah ‘lulus’ jalan-jalan di daerah pertokoan utama Singapore seperti Orchard Road, Marina Bay, Chinatown, Bugis, Suntec dan kawan-kawan lalu ingin mencari suasana berbelanja yang baru, mampirlah ke PasarBella (www.pasarbella.com) yang terletak di “The Grandstand” dekat kawasan hunian, Bukit Timah. Bahkan untuk warga lokal Singapore pun, PasarBella ini masih termasuk ‘jarang’ dikunjungi karena lokasinya tidak di daerah pertokoan utama dan memang baru dibuka tahun lalu (2013).

Nama “PasarBella” sendiri diambil dari Bahasa Melayu…pasar = market dan Bahasa Italia…bella = beautiful…. Jadi, terjemahan bebasnya adalah ‘beautiful market’….pasar yang cantik. Konsepnya adalah pasar grocery dan tempat makan. Pasarnya memang cantik…bukan seperti traditional wet market yang becek dan berbau amis. PasarBella sangat memanjakan seluruh indera kita…pemandangan yang menyenangkan dari berbagai warna-warni sayur, buah, daging, seafood dan makanan jadi yang dipajang. Indera pengecap tentunya akan terpuaskan ketika anda mencicipi makanan dan minuman yang dijual di sana….juga ada banyak sekali stall yang menawarkan ‘tester’ untuk anda….gratis. Ketika kami ke sana pada Hari Sabtu  menjelang jam makan siang, ada hiburan band di salah satu sudut PasarBella…membuat suasana menjadi lebih riang. Tidak ada becek, tidak panas (karena full AC)  meski cukup ramai pengunjungnya.

Pertama, saya akan ceritakan perjalanan saya menuju PasarBella….. Kalau naik taxi sih pastinya gampang menuju PasarBella, tapi saya memilih untuk naik MRT. Menurut website, disediakan shuttle bus dari beberapa MRT Station terdekat dengan PasarBella. Saya memilih untuk berhenti di MRT Station Toa Payoh. Jadwal kedatangan shuttle bus di MRT Station bisa dilihat di http://thegrandstand.com.sg/shuttlebus-schedule.aspx

Jadi, lokasi PasarBella berada di dalam The Grandstand yang merupakan nama bangunannya (mall). The Grandstand memiliki dua area utama yang dinamakan North Grandstand dan South Grandstand. PasarBella terletak di North Grandstand sedangkan di South Grandstand terdapat Giant Hypermarket. Selain dua tenant utama ini, masih ada lagi tenant lainnya, khususnya preschool dan tentunya berbagai restaurant.

Tiba di Grandstand, suami dan saya langsung menuju ke PasarBella. Laporan hasil ‘cuci mata’ kami di PasarBella akan saya sajikan melalui foto-foto sehingga anda mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang betapa cantik dan menariknya PasarBella.

Inilah entrance PasarBella. Di dinding dengan batu bata terbuka, terdapat petikan-petikan tulisan yang berkaitan dengan makanan.

Stall pertama yang akan anda temui adalah stall macaroons! Warna-warninya sungguh menggoda mata dan iman (buat yang lagi diet).

Jika anda berminat untuk mengetahui lebih jauh tentang Bonheur Pattiserie ini, silakan kunjungi websitenya http://www.bonheurpatisserie.com/

Tak jauh dari Bonheur Patisserie ada ‘butik teh’. Saya memakai istilah ‘butik’ karena stall-nya serius sekali menjual teh pilihan. Inilah “The 1872 Clipper Tea Co”…salah satu legenda teh terkenal dari Singapore. Dengan pilihan yang luar biasa banyaknya, anda bisa bingung untuk menentukan pilihan teh anda.

Info lebih lanjut, silakan lihat di http://www.clippertea.com.sg/

Sesuai dengan konsep “pasar” yang diusung oleh PasarBella, di sana dijual banyak makanan segar: sayur, buah, daging, seafood. Tentunya, makanan segar yang dijual di sana adalah yang berkualitas prima, umumnya organic, sesuai dengan kebutuhan konsumen zaman sekarang yang menyukai segalanya yang bersifat ‘organic’. Salah satu stall yang menjual bahan-bahan organic adalah “So Organic”, anda bisa lihat betapa menariknya sayur dan buah-buahan mereka. Bahkan jika anda bukan penggemar sayur dan buah pun, setidaknya anda bisa cuci mata melihat display mereka.

Selain sayur dan buah, juga ada produk-produk organik lainnya, seperti telur dan berbagai jenik mie (kering).

Salah satu tempat teramai di PasarBella adalah di area pasar seafood-nya. Anda bisa melihat begitu banyak jenis seafood yang jarang terdapat di supermarket biasa (apalagi di supermarket Jakarta). Anda bisa memilih seafood fresh yang ada di display, lalu dimasak di sana dan langsung anda santap di resto mereka.

“Wine and Cheese” juga ada di PasarBella. Tempat penjualan dan pameran keju dibuat secara khusus, karena keju membutuhkan cara penyimpanan khusus, dengan suhu tertentu. Suami dan saya sempat masuk ke area keju…bau khas keju sangat terasa di ruangan tersebut. Jika anda tidak suka bau keju, sebaiknya tidak memasuki area ini. Wine juga banyak dijual di PasarBella, bahkan ada mesin ‘wine per glass’ seperti dispenser jika anda tidak mau membeli sebotol.

Di dalam PasarBella juga ada beberapa toko non-makanan, di antaranya adalah “The Children’s Showcase” yang menjual berbagai permainan dan dekorasi untuk ruangan anak-anak. Warna-warni cerah dari koleksi “The Children’s Showcase” sangat mengundang saya untuk mampir. Meski anak-anak saya sudah remaja, tetapi tetap menarik untuk melihat pernak-pernik anak-anak di toko ini.

Setelah puas cuci mata dan belanja, anda bisa bersantap di salah satu restaurant yang ada di dalam lokasi PasarBella. Semuanya tampak menarik karena display-nya bagus. Saya dan suami tidak makan di dalam PasarBella sehingga tidak bisa memberikan review soal rasanya. Beberapa restaurant yang tampak menarik menurut saya ada di foto-foto berikut ini:

Last but not least….di PasarBella banyak handmade craft yang cantik, stall baju bergaya vintage dan banyak lagi pernak-pernik untuk rumah.

Supaya jangan salah naik shuttle bus, saya share foto shuttle bus The Grandstand yang melayani pengunjung dari MRT Station menuju PasarBella dan sebaliknya.

Inilah penampakan shuttle bus dari/ke MRT Station

 

Address:

PasarBella @ The Grandstand Bukit Timah

200 Turf Club Road Singapore 287994

Opening Hours

Stalls : 9.30am to 7pm (some opens until after 7pm)

Restaurants: 10am to 10pm

Oleh-oleh yang Manis dari Singapore

Salah satu jenis oleh-oleh ‘klasik’ dari liburan adalah makanan. Bagi yang bepergian ke Singapore, salah satu titipan yang sedang ‘hits’ akhir-akhir ini adalah Ovomaltine…., selain “Kit Kat Green Tea’ yang beberapa waktu sebelumnya juga sangat populer sebagai barang oleh-oleh.

Ini dia....Ovomaltine Crunchy Cream
Ini dia….Ovomaltine Crunchy Cream

“Di mana kita bisa beli Ovomaltine di Singapore?” tentunya itulah pertanyaan awal jika kita mencari barang. Menurut hasil googling, Ovomaltine dijual di Candy Empire…yaitu salah satu toko spesialis yang menjual snack manis…permen, coklat dan kawan-kawan. Ada 4 outlets Candy Empire menurut website-nya (www.candyempire.com.sg) yaitu di Vivocity, Millenia Walk, Star Vista (dekat Buona Vista MRT) dan Changi Terminal 1 Departure.

Di Singapore dimulailah perburuan saya mencari Ovomaltine. Pertama, saya menuju Millenia Walk karena lokasinya tidak jauh dari tempat saya menginap. Ternyata di sana….stock kosong…waaah….gagal deh. Saya bertemu dengan sesama orang Indonesia yang juga sedang mencari Ovomaltine dan sama-sama kecewa.

Keesokan harinya…setelah dari Chinatown, saya menuju Vivocity yang hanya berjarak satu stasiun MRT (dari MRT Chinatown ke MRT Harbour Front). Sampai di Candy Empire Vivocity, saya juga melihat beberapa orang Indonesia yang mencari Ovomaltine. Tampaknya Ovomaltine ini memang sedang trendy sekali bagi warga Jakarta.

Pembelian Ovomaltine dijatah 3 botol per customer! Waaah, saya semakin penasaran dengan kepopuleran produk ini. Akhirnya saya beli 3 botol, masing-masing 400 gram (hanya ada 1 ukuran botol). Meskipun lumayan berat untuk dijinjing tapi biarlah, yang penting sudah berhasil beli Ovomaltine.

Stock Ovomaltine Crunchy Cream di Candy Empire Vivocity
Stock Ovomaltine Crunchy Cream di Candy Empire Vivocity

Nama resminya adalah “Ovomaltine Crunchy Cream”, yaitu selai coklat untuk dioleskan di roti tawar. Ovomaltine adalah merk Switzerland, tetapi diproduksi di Belgia. Ketika saya beli, harganya sekitar SGD 10 per botol. Sebelum saya berangkat ke Singapore, saya sempat melihat Ovomaltine ini dijual di Ranch Market Grand Indonesia dengan harga Rp 220.000,- per botol yang berarti lebih dari dua kali lipat harga di Singapore!

Selain crunchy cream ini, juga ada Ovomaltine dalam bentuk chocolate bar, muesli, drink powder. Saya juga sempat beli Ovomaltine Chocolate bar dan drink powder di Candy Empire.

Choc Ovo...coklat rasa Ovomaltine
Choc Ovo…coklat rasa Ovomaltine

Pertanyaan berikutnya…”Bagaimana rasa Ovomaltine Crunchy Cream?” Untuk sarapan pagi di hari pertama setelah saya kembali dari Singapore, saya langsung mencicipi Ovomaltine yang dioles ke roti tawar. Sensasi pertama adalah ‘kres…kres…kres…’ terasa benar keunggulan ‘crunchy’ yang ditawarkan Ovomaltine. Kalau rasa coklatnya sendiri, sebenarnya Nutella juga sama enaknya. Keunggulan lainnya, Ovomaltine Crunchy Cream ini lebih creamy dibanding Nutella (meski sama-sama disimpan di suhu ruangan) sehingga tidak lengket di gigi.

Sebagai catatan, saya sempat juga mencoba ke Candy Empire di Changi untuk beli Ovomaltine lagi…ternyata di sana tidak ada stocknya. Untunglah sudah beli 3 botol sewaktu di Vivocity.

Dan…harus diingat, Ovomaltine Crunchy Cream ini tidak boleh dibawa dalam ‘hand-carry’ ke pesawat karena dianggap ‘liquid’ dan kuantitasnya 400 gram. Jadi, jika ingin belanja Ovomaltine Crunchy Cream di Singapore, pastikan bahwa anda menyimpannya di koper yang dimasukkan ke bagasi, bukan hand-carry ke kabin penumpang.

“Apa lagi yang manis-manis dari Singapore?” Selain rangkaian produk Ovomaltine, juga ada permen/coklat lainnya yang sedang populer dijadikan oleh-oleh ke Indonesia yaitu:

Nutella & Go: ini seperti biscuit stick yang dicocol ke chocolate spread. Mudah ditemukan…saya beli di toko-toko souvenir di Lucky Plaza, Orchard Road dengan harga SGD 10 untuk tiga Nutella Go.

Nutella Go
Nutella & Go

Kit Kat Green: sama seperti Kit Kat chocolate bar yang biasa kita temukan di Jakarta, tapi coklatnya memakai rasa green tea. Ini juga mudah ditemukan, di Lucky Plaza (SGD 20 untuk 3 pak berisi @ 12 mini Kit Kat Green Tea). Untung saya tidak langsung beli di Lucky Plaza, karena saya akhirnya menemukan barang yang sama di Bugis Market dengan harga SGD 5 per pak.

Kit Kat Green Tea berisi 12 mini chocolate
Kit Kat Green Tea berisi 12 mini chocolate

Reese’s: ini adalah merek peanut butter dari America (seperti Skippy) yang memiliki berbagai varian produk berbasis peanut butter, mulai dari selai kacang, permen dan chocolate bar. Banyak dijual di Candy Empire maupun Cocoa Trees. Reese’s ini adalah favorit Devani.

IMG-20140427-01803
Berbagai produk Reese’s…semuanya berbasis peanut butter
IMG-20140508-01827
Peanut Butter Cups…maaf…isinya sudah habis…tinggal bungkusnya saja 🙂

Wonka candy: dipopulerkan melalui novel “Charlie and the Chocolate Factory”. Ada berbagai jenis permen Wonka dan mulai banyak juga dijual di bazaar-bazaar atau online shop Indonesia.

Wonka Candy rasa soda
Wonka Candy rasa soda

Kisaran harga coklat dan permen ini sangat bervariasi. Jika anda ingin membeli oleh-oleh dalam jumlah banyak, cari saja permen  atau coklat dalam bungkus/kantongan yang jumlahnya banyak. Umumnya permen dan coklatnya sudah dibungkus secara individual sehingga mudah untuk dibagikan.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingatkan….kalau anda beli permen dan coklat untuk oleh-oleh, jangan lupa beli untuk diri sendiri 🙂 supaya tidak penasaran dengan rasanya!

 

 

 

Belanja oleh-oleh di Chinatown Singapore

Kalau jalan-jalan, meski hanya sebentar, pasti cari oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di Jakarta. Salah satu tempat cari oleh-oleh yang murah meriah di Singapore adalah Chinatown. Jadi, selain saya mencari dim sum enak di Chinatown, saya juga bermaksud beli oleh-oleh souvenir di sana.

Area Chinatown cukup luas, dipenuhi oleh toko-toko souvenir di kiri-kanan jalan. Di jalan utama Chinatown ketika kita keluar dari Exit A MRT Station Chinatown, mobil/kendaraan tidak diperkenankan lewat, sehingga kita bebas berjalan di tengah jalan, menyebrang dari sisi toko yang kiri ke kanan dan sebaliknya tanpa gangguan. Tetapi di beberapa ruas jalan lain seperti di Temple Street dan Trengganu Street, mobil boleh masuk (meski tidak sampai macet) sehingga anda perlu berhati-hati jika ingin menyebrang.

Nah, sekarang mari kita lihat barang-barang apa saja yang bisa dipilih untuk oleh-oleh….

Tiga foto pertama ini adalah oleh-oleh yang biasa dijual dengan harga “3 for $10″…artinya dengan harga SGD 10, anda bisa memilih 3 item apa saja.

DSC09147
Pensil dan ballpoint. Merlion yang di-design mirip logo Starbucks sedang nge-trend pada saat saya ke sana.
DSC09150
Beragam sumpit juga bisa menjadi pilihan
DSC09148
Aksesoris gelang warna-warni

Selain dari barang-barang di atas, tentu ada juga barang-barang souvenir “klasik” seperti T-shirt, key chain (gantungan kunci), magnet dengan harga yang kurang lebih sama “3 for $10” atau kalau untuk key chain, harganya “6 for $10” karena dijual dalam paket berisi 6 gantungan kunci.

Jika anda ingin membeli souvenir pecah belah, banyak juga pilihannya di Chinatown. Meski anda harus hati-hati dalam mengemasnya agar tidak pecah. Untuk barang-barang pecah belah ini, harga per item biasanya di atas SGD 10. Selalu tawarlah harga yang diajukan penjual. Jangan langsung menerima harga penawaran pertamanya.

DSC09155

DSC09154

DSC09153

DSC09152

DSC09151

Tips belanja di Chinatown:

Jika tertarik pada suatu barang, langsung datangi toko tersebut. Area Chinatown cukup luas sehingga anda mungkin akan malas untuk kembali ke toko tersebut.

Harga barang umumnya masih bisa ditawar. Meski sudah tertulis ” 3 for $10″, anda masih bisa mencoba menawar menjadi “4 for $ 10”.

Luangkan waktu sedikitnya 2 jam untuk berbelanja di Chinatown karena areanya cukup luas. Anda bisa duduk untuk makan-minum jika lelah berbelanja lalu lanjut lagi berjalan.

Area Chinatown adalah open market….jadi bersiap-siaplah menghadapi panas dan lembab jika kebetulan cuaca sedang sangat cerah/panas. Sebaliknya, jika hari hujan, anda juga akan terganggu untuk berjalan-jalan di sana. Jadi sebaiknya bawalah payung kecil yang bisa dipakai untuk melindungi anda dari panas terik maupun hujan. Jika anda belum puas belanja di jalan-jalan Chinatown, anda juga bisa mampir menengok ke kompleks pertokoannya yang mirip “Mangga Dua Jakarta”.

DSC09158
Di dalam Chinatown Complex ini juga banyak toko-toko souvenir

Yang dijual di Chinatown umumnya adalah barang-barang souvenir bukan makanan. Jika anda mencari oleh-oleh makanan (coklat, permen, dll), sebaiknya anda pergi ke Bugis Market atau Lucky Plaza.

Selain belanja oleh-oleh, di Chinatown juga terdapat Buddhist temple dan Hindu temple sehingga kunjungan anda ke Chinatown juga bisa digabungkan dengan meninjau kedua temple tersebut.

DSC09159
Buddhist Temple yang terdapat di area Chinatown
DSC09161
Inilah yang bisa anda lihat di Buddhist Temple yang ada di Chinatown
Pos informasi Chinatown
Pos informasi Chinatown