Pantai Ramai dan Pantai Sepi

Saya ingin mengajak Devani dan Maxi ke beberapa pantai Bali dengan karakter yang berbeda. Ketika menyusun rencana liburan ini, saya memasukkan jadwal kunjungan ke pantai setiap hari. Karena kami menginap di daerah Legian, maka di hari kedatangan, setelah makan siang, kami menuju Legian Beach.

Legian Beach terletak di daerah Selatan Bali, merupakan salah satu pantai ‘klasik’ yang mudah dijangkau sehingga banyak sekali dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing. Di sekitar Pantai Legian juga banyak toko-toko yang menjual baju-baju khas Bali dan souvenir.

Kami tiba di Pantai Legian menjelang pukul 3 siang, masih panas, tetapi sudah lewat dari puncak terik matahari siang. Devani dan Maxi mempunyai tujuan yang berbeda jika mengunjungi pantai. Maxi selalu ingin masuk ke air…bermain ombak bahkan berenang di laut jika memungkinkan. Devani hanya berada di pantai, main pasir pantai dan foto-foto. Saya….kali itu tidak terlalu mau masuk air, jadi memilih untuk berada di pantai saja.

Pantai Legian sangat komersil. Begitu kami memasuki wilayah pantai, langsung didekati oleh orang yang menawari kursi pantai. Harganya Rp 50.000,- untuk dua buah kursi pantai dan payungnya. Karena sore itu kami tidak siap dengan handuk pantai, akhirnya kami menyewa dua kursi dari salah satu orang yang mendekati kami. Tampaknya harga agak sulit ditawar (atau saya yang kurang ngotot untuk menawar) karena beberapa orang yang mendekati kami menawarkan harga dan kondisi yang persis sama.

Tak butuh waktu lama, Maxi sudah ‘nyemplung’ ke laut….sebenarnya saya agak khawatir karena ombak saat itu cukup kuat. Ada beberapa orang yang juga masuk ke laut, umumnya sedang belajar main surfing. Pakaian Maxi untuk main di laut selalu dengan celana pantai (banyak sekali dijual di Bali dengan harga di bawah Rp 30.000,-) dan T-shirt. Celana pantainya terbuat dari bahan yang ringan dan cepat kering sehingga enak untuk dipakai berenang ke laut. Maxi selalu membawa handuk dan baju ganti lengkap sampai ke underwear-nya jika bermain ke laut sehingga setelah puas main di laut, dia bisa bilas (tanpa sabun, yang penting sudah dibilas dengan air tawar) lalu ganti baju kering.

Devani dan Maxi juga sempat bermain pasir…. Saya juga senang membuat istana pasir, meskipun bentuknya tidak canggih. Namun sore itu, hanya Devani dan Maxi yang membuat Maxi menjadi “putra duyung”. Yaaah….anak-anak Jakarta yang jarang ketemu pasir pantai…jadi maklumlah kalau mereka girang sekali ketemu pantai dan pasir.

Pantai berikutnya yang kami kunjungi di hari kedua kami di Bali adalah Pantai Geger di kawasan Nusa Dua (juga di Selatan Bali). Pantai Geger lebih sepi dibandingkan dengan Pantai Legian. Pengunjung yang berada di Pantai Geger kebanyakan turis asing yang berjemur di pantai. Kami tiba di Pantai Geger juga setelah makan siang, cuaca panas…membuat Maxi langsung masuk ke laut.

Perjalanan menuju Pantai Geger melewati jalan tol baru yang dibangun di atas laut. Selalu ikuti petunjuk arah ke Nusa Dua, lalu ikuti arah ke “Pantai Geger”. Petunjuk arah cukup jelas, apalagi jika supir anda adalah orang Bali lokal, pastilah tidak akan nyasar.

Di pinggir Pantai Geger ada beberapa hotel, yang terbesar adalah Mulia Hotel. Pengunjung tetap boleh bebas bermain di pantai meski bukan tamu hotel tersebut. Tidak terlalu banyak pedagang keliling dan kami juga sudah siap membawa handuk pantai sendiri sehingga kami tidak menyewa kursi pantai. Ombak di Pantai Geger tidak sedahsyat di Pantai Legian, tetapi pantai dan airnya lebih bersih.

Setelah selesai bermain di pantai, kami diperbolehkan menggunakan pancuran air untuk bilas…tanpa dipungut biaya. Sambil menunggu Devani dan Maxi membersihkan diri dan ganti baju, saya sempat duduk-duduk di salah satu restaurant yang terletak di pantai sambil minum kelapa muda. Harga kelapa muda di batok adalah Rp 25.000,- menurut saya cukup wajarlah. Tak ada yang terlalu istimewa dari restaurant tersebut, saya adalah satu-satunya tamu restaurant di siang hari itu.

Setelah bersih, sudah ganti pakaian kering, pulanglah kami dari Pantai Geger kembali ke hotel.

Pada hari ketiga, yaitu Sabtu, 5 Juli 2014, kami mengikuti Bali Hai Beach Club Cruise menuju Nusa Lembongan. Tulisan tentang Bali Hai Cruise akan saya buat terpisah agar ceritanya lebih terfokus.

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Pantai Ramai dan Pantai Sepi”

  1. hai… ! Wahh asyikk yaa pantainya…. aku belon pernah tuh ke pantai geger. Biasanya ke legian sama kuta aja seringnya.
    Kalo emang seneng ke pantai cobain deh pantai – pantai di Belitung… bagus – bagus semua, airnya jernih banget, pasirnya halus, landai dan hampir gak ada karangnya….. suamiku yang biasanya gak gitu suka pantai aja betah loh main di pantainya laskar pelangi. By the way … nama panggilannya siapa yaa ?? Abis kalo manggil Purborini kayaknya kok kepanjangan yaa…^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s