Ikkudo Ichi di Kota Kasablanka

Kota Kasablanka (biasa disebut “KoKas”) adalah mall terdekat dari rumah kami. Saya punya banyak alasan untuk ke sana, mulai dari groceries shopping, beli alat tulis, beli perlengkapan rumah, cari baju, ke salon sampai ke dokter gigi….dan tentunya cari makan. KoKas punya ratusan pilihan restaurant, mulai dari yang cuma outlet sampai ke restaurant besar. Nah, kemarin malam, suami, Maxi dan saya mampir ke Ikkudo Ichi yang berlokasi di Lower Ground KoKas. Lokasinya di depan “Home Solution”.

Kami datang masih sore-sore, sebelum jam 6…tapi situasi restaurant sudah lumayan penuh. Ikkudo Ichi menempatkan area makan pengunjung di koridor mall, jadi kita tidak berada dalam restaurant yang tertutup.

IMG-20140919-02165IMG-20140919-02167

Begitu dapat tempat duduk, waiter langsung memberi kami daftar menunya. Ikkudo Ichi adalah spesialis ramen sehingga tentunya saya mau mencoba ramen mereka. Namun selain ramen, Ikkudo Ichi juga menyediakan menu Jepang lainnya, seperti karage, katsu, gyoza dan lain-lain….tapi tidak ada sushi dan sashimi. Harganya bekisar antara Rp 40.000,- sampai Rp 50.000,- untuk seporsi ramen. Untuk tiap menu, ada yang berukuran ‘small’ dan ‘regular’. Saya pilih yang ‘small’ sementara suami pilih yang ‘regular’ ramen. Maxi memesan Chicken Karage Don. Untuk side dish, kami pesan Yaki Tori Gyoza berisi daging ayam dan udang cincang. Minumnya…Ocha dingin.

IMG-20140919-02157IMG-20140919-02158

Untuk ramen pilihan saya…Tori Signature, menurut saya kuahnya cenderung ‘mild’…mungkin karena saya memang tidak pesan rasa yang ‘strong’. Memang ada 3 pilihan jenis kuah: weak, normal, strong. Kalau untuk pilihan jenis mie, saya memang pilih yang ‘small noodle’…pilihan lainnya adalah ‘curly noodle’.

IMG-20140919-02155

Ramen bisa diatur sesuai pilihan anda…dalam hal kekenyalan mie (lembek,normal, keras), kekuatan rasa dan seberapa berminyaknya kuah ramen yang anda inginkan. Karena baru pertama kali makan di Ikkudo Ichi…saya tidak meng-customize ramen pesanan saya….semuanya saya serahkan pada ‘ahlinya’.

IMG-20140919-02159
Inilah Tori Signature saya… (Rp 35.00,- small size)
IMG-20140919-02161
Saus, minyak, bumbu lainnya disediakan di meja.

Suami saya bisa makan pedas, sehingga pilihannya adalah Tori Tantan. Mungkin karena size-nya regular, maka telur rebusnya satu utuh, dibelah dua. Sementara telur rebus saya cuma setengah…karena saya pilih small size ramen bowl.

IMG-20140919-02164
Tori Tantan pilihan suami (Rp 49.500,- regular size)
IMG-20140919-02163
Chicken Karage Don Rp 35.500
IMG-20140919-02162
Yaki Tori Gyoza Ebi Rp 27.000

Ternyata…setelah selesai makan…Maxi masih kelaparan….mungkin porsinya kurang besar untuk dia. Akhirnya sebelum pulang…dia masih beli sushi di Umi Sushi. Tapi buat suami dan saya, cukup kenyanglah makan ramen di Ikkudo Ichi ini.

Total makan kami bertiga Rp 193.000,-… Pembayaran harus tunai untuk total bill di bawah Rp 200.000,-.

Domo Arigato Gozaimasta…. Thank you.

Advertisements

Ada Landak Mini di Rumah Kami

Sejak dua bulan yang lalu, Devani memelihara landak mini atau ‘hedgehog’. Awalnya saya tidak setuju dengan rencananya untuk menambah satu macam lagi hewan peliharaan di rumah kami selain kucing dan ikan. Apalagi kami semua tidak punya pengalaman memelihara landak mini. Selain itu, di rumah kami ada tiga ekor kucing yang bebas berkeliaran di dalam rumah….apakah mereka bisa menerima teman baru seekor landak mini?

Devani dan landak mininya
Devani dan landak mininya

Dalam usaha saya untuk membatalkan niat Devani memilihara landak mini, saya memberikan beberapa persyaratan. Yang pertama, dia harus minta persetujuan dulu dari ayahnya dan adiknya. Kedua, nilai raport kenaikan kelasnya harus bagus. Ketiga, segala biaya awal untuk memelihara landak mini (beli kandang, beli landak mini dan perlengkapannya) harus ditanggung Devani. Keempat, Devani harus bertanggung jawab terhadap kebersihan kandang dan perawatan landak mininya.

Menurut saya, keempat persyaratan itu lumayan berat dan bisa menyurutkan niatnya untuk memelihara landak mini. Ternyata, semuanya berhasil ia penuhi dan akhirnya sejak bulan Juli yang lalu, hadirlah seekor landak mini di rumah kami.

Sebagai persiapan, bahkan sebelum Devani memenuhi seluruh persyaratan di atas, kami berkunjung ke BFC Farm (BFC sebenarnya singkatan dari Bintaro Fish Centre). Selain ada landak mini, di BFC Farm juga ada beberapa binatang lainnya seperti lobster air tawar, kura-kura dan kelinci mini.

Pada kunjungan kami yang pertama, Devani dan saya hanya ‘survey’ melihat bagaimana mereka memelihara landak mini. Devani juga belajar cara memandikan landak mini. Kami mendapatkan informasi dasar seputar landak mini. Untuk kunjungan dan informasi tersebut, kami dikenakan biaya Rp 50.000,-.

Sebelum berkunjung ke BFC Farm, Devani hanya mendapatkan pengetahuan tentang landak mini dari hasil ‘googling’ dan melihat di ‘Youtube’. Sebab itu, menurut saya, penting buat dia untuk melihat landak mini secara nyata…yang hidup. Saya ingin tahu seberapa baunya kandang landak mini karena rencananya, kandang landak mini itu akan diletakan di dalam rumah….ruangan tertutup.

Dari hasil survey ke BFC Farm, Devani semakin mantap untuk memelihari landak mini….karena menurutnya, landak mini itu lucu dan menggemaskan. Maka setelah kunjugan tersebut, Devani mulai menyediakan perlengkapan lainnya.

Meskipun BFC Farm memilihara landak mini di dalam kandang kaca, seperti aquarium, Devani ingin menggunakan ‘plastic container’ sebagai kandang landak mininya. Setelah survey ke beberapa tempat, akhirnya dia memilih membeli ‘plastic container’ di Ace Hardware. Devani mencari plastic container ukuran terbesar yang ada di toko dengan pertimbangan bahwa landak mini senang bermain, sehingga ia butuh area yang cukup luas untuk berjalan-jalan. Sedangkan untuk tutup kandangnya (karena kami khawatir kucing kami akan iseng mengganggu landak mini), Devani membuatnya dari jeruji pagar. Bahannya dibeli meteran di toko bahan bangunan.

Beli plastic container untuk kandang landak mini
Beli plastic container untuk kandang landak mini

Untuk tempat makan dan minum, Devani membeli asbak kaca (karena harus berat agar tidak mudah ditumpahkan oleh si landak mini) dari Carrefour.

Karena habitat asli landak mini adalah di bawah tanah, maka mereka senang masuk terowongan. Devani membelikan pipa PVC berdiameter besar sebagai terowongan buatan. Pipa PVC kami beli di toko bahan bangunan. Sebagai tempat bersembunyi, Devani membuatkan rumah-rumahan dari stick ice-cream dan kantong dari kain yang halus (seperti bahan flannel).

IMG-20140708-01985
Beberapa alternatif ‘tempat sembunyi’ untuk si landak mini
IMG-20140708-01990
Kandang dengan tutup jeruji dan pipa PVC untuk tempat main

Keperluan perawatan lainnya, seperti sekop plastik, handuk untuk alas, tissue di beli dari berbagai tempat atau diambil dari yang sudah tersedia di rumah.

Setelah semua persyaratan dipenuhi dan perlengkapan siap, pergilah kami ke BFC Farm lagi untuk membeli landak mininya. Karena kami tidak akan membeli kandang dari BFC Farm, kami membawa kandang kecil yang biasa dipakai oleh kucing kami sebagai tempat untuk membawa pulang si landak mini baru.

IMG-20140708-01981
Landak mini dibawa pulang dari BFC Farm

Devani membeli landak mini tipe Salt & Pepper betina seharga Rp 400.000,-. Sesuai kesepakatan, Devani hanya boleh memilihara seekor landak mini. Kami tidak mau landak mini itu berkembang biak….repot sekali mengurus mereka!

Inilah "Maisy"
Inilah “Maisy”

Alas kandang (disebut ‘bedding’) dan makanan landak mini (mirip seperti makanan kucing model kering) juga dibeli dari BFC Farm.

Devani memberi nama landak mininya: Maisy…diambil dari tokoh kartun tikus yang menjadi favoritnya ketika kecil.

Ketika kami meletakkan Maisy di dalam kandangnya, dia tampak langsung menjelajah area baru ini. Kucing-kucing kami tampak ingin mengenal Maisy tetapi sampai sejauh ini, mereka tidak saling mengganggu.

Kucing bertemu landak mini
Kucing bertemu landak mini

Setelah dua bulan berada di rumah kami, Maisy sudah mulai jinak. Pengertian ‘jinak’ maksudnya tidak memberdirikan duri-durinya, tidak mengeluarkan suara seperti mendesis ketika akan diangkat keluar kandang. Awalnya Devani menggunakan alas handuk ketika memegang Maisy, tetapi sekarang ini, dia sudah terbiasa memegang Maisy hanya dengan tangan.

Sejauh ini, hanya Devani yang berinteraksi dengan Maisy. Hampir tiap hari, Maisy dikeluarkan dari kandangnya untuk sekedar di pangku atau diperbolehkan main di lantai (di area yang sudah dialasi lembaran plastik dan diberi pembatas agar tidak lari ke luar area).

Di BFC Farm, kami pernah melihat landak mini berenang di kolam dengan kedalaman air sekitar 50 cm, tetapi Devani belum pernah melepas landak mininya untuk berenang, jadi hanya dimandikan saja dengan sikat gigi dan shampoo bayi.

Untuk makanannya, selain diberikan makanan kering dari BFC Farm, Devani juga pernah mencoba memberikan ulat hongkong hidup yang ternyata sangat digemari Maisy. Namun karena Devani masih jijik untuk memegang ulat hongkong hidup, dia membeli ulat hongkong kering melalui ‘kaskus’. Awalnya Maisy kurang suka makan ulat hongkong kering, tetapi sekarang mulai suka.

Beberapa jenis buah dan daun sebenarnya juga bisa menjadi makanan landak mini namun sejauh ini, belum ada yang benar-benar mejadi makanan favoritnya.

Bagi yang berminat memelihara landak mini, bisa langsung saja menuju BFC Farm di alamat di bawah ini.

BFC Mini Farm                                                                                                                        Jl. Mesjid Baitis Salmah                                                                                      Kp.Tegal Rotan Rt.04/07 No.123                                                                        Desa Sawah Baru, Ciputat                                                                              Tangerang

Website http://www.landakmini.com

Saya juga senang jika ada pembaca blog ini yang juga memelihara landak mini….kita bisa bertukar pengalaman “tips and trick” bergaul dengan si landak mini.

Dream Travel MOM: My life as a “Mom”

Hmmm….sudah lama sekali nggak menulis blog….. Terakhir kali menulis di tanggal 24 Juli…berarti sudah lebih dari sebulan saya tidak “nge-blog”. Memasuki bulan September ini, saya punya semangat baru untuk menghidupkan blog ini. Nama blog saya adalah “dream-travel-mom”, kalau hanya menulis cerita traveling, blog ini kurang hidup, karena saya masih kurang sering jalan-jalan (padahal mau banget lebih sering jalan-jalan). Jadi, mulai bulan September 2014 ini, saya akan menulis cerita-cerita saya sebagai ‘mom’….. Pastinya akan lebih banyak cerita yang bisa saya bagikan di sini yang semoga bisa berguna bagi orang lain.

Sekedar mengulang informasi….saya adalah seorang ibu dari dua anak remaja. Saat ini, kedua anak saya sudah resmi menjadi ‘teenager’. Si sulung, Devani berusia 14 tahun dan si bungsu, Maxi berusia 13 tahun. Dua anak…satu perempuan dan satu laki….cukuplah sudah. Jarak usia kedua anak saya memang dekat, hanya 16 bulan…. Devani baru berusia 7 bulan ketika saya mulai hamil lagi….it was really a surprise pregnancy! Pengalaman mengurus ‘dua bayi’ itu sangat sibuk dan banyak tantangan….syukurlah sudah dilewati dengan baik. Saat ini, Devani duduk di Grade 9 (sama dengan kelas 3 SMP) dan Maxi di Grade 8 (= kelas 2 SMP). 

Saya adalah seorang ibu yang bekerja full-time…. Uniknya…, saya bekerja di sekolah di mana kedua anak saya bersekolah. Ada banyak cerita seputar pendidikan dan pengalaman saya bekerja di dunia pendidikan yang ingin saya bagikan, baik dari sudut pandang sebagai saya yang bekerja di dunia pendidikan maupun dari sudut pandang saya sebagai seorang ibu.

Nah…sekian dulu perkenalan (lagi) dari saya. Dengan tulisan saya hari ini, saya mengawali area baru di blog saya…yaitu keseharian saya sebagai seorang ibu…”Mama” untuk Devani dan Maxi.