Category Archives: Uncategorized

Welcoming the 2015

Yes….today is the last day in the year of 2014! I feel that I want to write just a short post before I really move on to 2015.

2014 was a busy year for our family. My husband regularly travels for his work, mostly to Bali. Devani and Maxi have full schedule during school days; studying as well as practising their hobby. Devani has 4-times ballet practices per week while Maxi plays football and/or futsal at least twice per week. I am busy balancing my professional life in the office and personal life as a mother of two busy teens (in addition to being a wife of a fully-scheduled husband)!

Well…this year I didn’t do as much travelling as I wish but I am grateful that I still have the opportunity to do so.

Semarang, January 2014 - travelling as a big family
Semarang, January 2014 – travelling as a big family
Singapore, April 2014 - travelling as a couple
Singapore, April 2014 – travelling as a couple
Bali, July 2014 - travelling as a big family
Bali, July 2014 – travelling as a big family
Singapore, December 2014 - travelling as a family
Singapore, December 2014 – travelling as a family

As a newcomer in blogging world, I think I have managed myself to write posts regularly in 2014. I have expanded my blog topics to include my experience visiting places in my hometown, Jakarta as well as my stories as a mother. In fact, my most viewed post is on my experience eating ice-cream at Ron’s Laboratory , Grand Indonesia, Jakarta

(https://dreamtravelmom.wordpress.com/2014/02/23/makan-ice-cream-di-rons-laboratory/)

In 2015, I will try my best to improve my blogging activities. In order to do so, I am open to any suggestions and invitations to join a wider blogging communities.

Happy New Year 2015, Everyone!

 

Advertisements

Ternyata Ada Bakmi yang Enak di Bali

Setahu saya, orang Bali bukanlah penggemar bakmi. Jarang sekali terdengar ada warung atau rumah makan di Bali yang terkenal karena bakminya. Tukang mie bakso keliling saja jarang terlihat di Bali. Kalau toh ada, penjualnya kebanyakan adalah pendatang dari Jawa.

Di Hari Minggu, 6 Juli 2014 itu…setelah sehari sebelumnya ikut Beach Club Bali Hai Cruise ke Nusa Lembongan, saya merasa kurang enak badan. Kemungkinan besar, terlalu banyak kena angin ketika berlayar dari Pulau Bali ke Nusa Lembongan pulang pergi. Rasanya saya tidak ingin pergi ke mana-mana di hari itu. Devani dan Maxi juga tampaknya sudah puas main di pantai setelah sebelumnya tiga hari berturut-turut main di pantai. 

Kami bangun agak siang…. “Ada bakmi yang enak nggak di Bali?” tanya saya ke suami. Dalam kondisi masuk angin…rasanya saya kepingin sekali makan bakmi yang enak. Atas usulan suami, kami pergi ke “Mie Bandung” di Jalan Teuku Umar Nomer 230, Denpasar. Sesuai namanya, bakmi yang dijual di sini bergaya “Mie Bandung”. Tetap saja bukan “Mie Bali”…tapi it’s okay.

Warung “Mie Bandung” berada di Denpasar, bukan di daerah turis. Pengunjung yang datang tampaknya warga lokal, bukan orang-orang yang sedang liburan. Kalau bukan karena suami saya memang sering ke Bali untuk urusan kerjaan, pastilah dia tidak akan tahu tempat ini. Sama seperti banyak resto bakmi di Jakarta, “Mie Bandung” terletak di pinggir jalan dengan bangunan yang seadanya. Pokoknya anda datang ke sana untuk makan bakmi enak…bukan untuk menikmati suasana restaurant.

DSC09281
Resto “Mie Bandung” di Jl. Teuku Umar No. 230, Denpasar

Memasuki “Mie Bandung”, anda langsung bisa melihat suasana dapur mereka. Meja-meja panjang dengan kursi plastik disediakan untuk para pengunjung. Resto ini tidak terlalu besar, bisa muat sekitar 25 pengunjung.

DSC09282
“Open Kitchen” dengan gaya tradisional

Seperti resto mie lainnya, selain bakmi biasa, anda juga bisa memesan bakmi hijau, kwetiaw, bihun, nasi goreng, pangsit goreng/kuah dan bakso. Harganya berkisar dari Rp 14.000,- untuk mie ayam biasa sampai Rp 26.000,- untuk mie hijau komplit (komplit maksudnya pakai pangsit dan bakso).

DSC09280
Menu dan Harga “Mie Bandung”

Kami berempat semuanya memesan mie ayam biasa. Begitu pesanan datang…langsung kami santap tanpa sempat saya foto. Penampakan bakminya biasa saja, tapi rasa bakminya enak! Bakminya garing sesuai selera saya, tapi bukan ‘mie alot’. Setelah makan bakmi, badan terasa lebih baik! Jika lain kali saya ke Bali lagi, pastilah saya akan mampir ke sini. Setelah makan “Western food” selama beberapa hari, saya kangen dengan bakmi!

 

 

   

 

Nonton “Red Tour – Taylor Swift” Bersama Remaja

Sejak Taylor Swift mengumumkan pada tanggal 13 Februari 2014 bahwa dia akan membawa “Red Tour” ke Asia termasuk Jakarta, anak saya Devani sudah sangat bersemangat (dan nekad) untuk menonton “Red Tour” Jakarta yang dijadwalkan akan digelar di Mata Elang International Stadium (MEIS) (www.meis.co.id) di Ancol pada tanggal 4 Juni 2014. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, Devani adalah seorang ‘Swiftie’ (sebutan untuk para penggemar Taylor Swift). Sudah cukup lama dia berharap Taylor Swift akan tampil di Jakarta agar ia bisa menontonnya bersama teman-teman Swiftie-nya. Devani belum pernah menonton “live show” artis tingkat dunia, jadi “Red Tour” akan menjadi first experience-nya…dan ini juga pengalaman pertama saya menemani anak nonton konser artis. Dulunya sih nonton “Disney on Ice”…sekarang karena sudah remaja…tentu lain yang ingin ditonton.

IMG-20140605-WA006

Berikut ini adalah tips saya untuk orang tua lain yang akan menemani anaknya nonton live show artis:

Carilah informasi mengenai cara pembelian tiket yang resmi

Tiket biasanya dijual secara “offline” dan “online”. Penjualan “offline” umumnya diadakan di suatu tempat, seperti mall atau toko. Tiket “Red Tour” dijual di beberapa gerai “Seven Eleven” di Jakarta. Beli tiket cara “online” dilakukan melalui website tertentu yang ditunjuk oleh promotor show. Untuk show artis yang sangat populer, kedua cara ini sama saja sulitnya karena anda harus bersaing dengan ribuan orang. Pilih saja yang paling memungkinkan bagi anda. Misalnya jika anda kerja kantoran dan agak sulit untuk antri “offline” jika tiket dijual di hari kerja, terpaksa bergantung pada penjualan “online”. Akhir-akhir ini banyak sekali penjualan tiket konser musik yang bisa habis dalam sekejap (kurang dari satu hari). Sebab itu, jika memang berniat menonton, belilah tiket sesegera mungkin.

Hati-hati, yang namanya tontonan akbar, pasti akan banyak pihak yang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak benar. Jadi, jangan tergiur dengan tawaran penjualan tiket dengan “jalan pintas” kecuali jika anda yakiiiiin sekali dengan reputasi penjualnya.

Calo tiket memang tetap ada sampai pada Hari-H di area MEIS, tetapi jauh lebih baik jika anda sudah memiliki tiket sendiri sehingga sudah pasti bisa nonton…kasihan anak anda jika ternyata gagal menonton idolanya.

Pilih jenis tiket yang sesuai

Untuk hal ini, faktor penentunya adalah budget anda. Jika anak anda masih remaja dan anda juga akan ikut menonton, saya sarankan untuk memilih tiket di mana anda bisa duduk (bukan di ‘festival’ yang biasanya ‘free standing’). Lebih baik lagi jika tempat duduknya bernomor sehingga anda dan anak anda tidak perlu berebut dan antri masuk berjam-jam sebelum show dimulai.

Untuk “Red Tour”, awalnya hanya tiket kelas termahal yang diberi nomor bangku. Tetapi seminggu sebelum show, promotor mengumumkan melalui twitter bahwa semua bangku akan diberi nomor. Wah…sungguh melegakan buat saya!

Persiapkan isi tas anda secukupnya saja

Ternyata saya  ‘over prepared’ yaitu membawa barang yang ternyata tidak terpakai selama proses mengantri dan menonton konser. Berikut adalah barang bawaan saya pada Hari-H:

2 botol kecil minuman -> ternyata baru kami minum setelah show berakhir

Wafer snack -> tidak kami makan sama sekali

Tissue basah dan tissue kering -> terpakai

Handuk -> tidak digunakan karena tidak berkeringat sama sekali

Power bank berkapasitas besar -> terpakai

Handphone…saya bawa dua dengan nomor dari operator berbeda, ‘just in case’ ada masalah dengan signal. Kami pergi diantar dan ditunggu oleh supir, sehingga handphone penting buat menghubungi supir ketika bubaran show -> ternyata signal lumayan baik, sehingga cukup bawa satu handphone asalkan terisi battery penuh.

Dompet berisi uang secukupnya saja untuk makan malam dan beli merchandise show -> ternyata official merchandise-nya tidak terlalu menarik, jadi saya hanya pakai uang untuk makan dan beli ice-cream Cornetto (sponsor utama “Red Tour”) yang berhadiah ‘glow stick’

….dan handycam -> entah kebetulan atau memang selalu demikian, ternyata isi tas tidak diperiksa ketika memasuki MEIS sehingga saya bisa merekam “Red Tour” meski kualitasnya tidak terlalu bagus karena jarak tempat duduk dengan panggung jauh

Makan dulu sebelum nonton

MEIS berada di lantai 3 Ancol Beach City. Selama menunggu pintu MEIS dibuka, anda bisa jalan-jalan sebentar di lantai 1 yang berisi banyak restaurant atau melihat-lihat stall sponsor. Kami sempat makan dulu sekitar jam 6 sore sebelum naik ke lantai 3.

IMG-20140604-01876
Beberapa restaurant di Ancol Beach City memiliki area outdoor

Mengatur jam kedatangan di area konser

“Red Tour” dimulai pukul 8 malam. Kami sampai di MEIS menjelang jam 5 sore. Karena sudah ada nomor tempat duduk, tidak perlu untuk datang jauh lebih awal. Namun jika anda menonton di “festival”, sebaiknya anda datang seawal mungkin karena antriannya sangat panjang.

Antisipasi saja lama perjalanan dari tempat tinggal anda ke Ancol dan antrian pintu masuk Ancol.

IMG-20140604-01877
Suasana di tangga naik ke arena MEIS sekitar 3 jam sebelum konser dimulai
IMG-20140604-01878
Ada beberapa stall dan tempat berfoto di area pantai di depan Ancol Beach City

Kondisi Toilet di Ancol Beach City

Di toilet yang terdapat di lantai dasar ujung kiri dan kanan, antriannya panjang sekali…. Jika pintu masuk ke arena MEIS sudah dibuka, sebaiknya anda menggunakan toilet yang berada di dalam arena MEIS (lantai 2 atau 3) karena antriannya tidak sepanjang di toilet lantai 1.

Toilet lumayan bersih, baik yang di Ancol Beach City mall maupun di area MEIS.

Kondisi di dalam MEIS

Sekitar jam 6 sore, kami naik ke lantai 3 dan pintu-pintu sudah dibuka. Antrian diatur dengan rapi, ada pembagian antrian untuk tiap golongan tiket. Yang terpanjang tentunya antrian untuk kelas ‘Festival’. Kami hanya mengantri sebentar saja, tak sampai 30 menit….selanjutnya kami sudah duduk di dalam arena konser.

Suhu di dalam MEIS relatif dingin. Jika anda atau anak anda tidak tahan dingin, sebaiknya membawa jacket, cardigan atau scarf.

IMG-20140604-01879

IMG-20140604-01880

Kondisi Selama Show

Bersiaplah mendengar jerit-jeritan para fans selama konser berlangsung. Para “Swifties” ikut bernyanyi mulai dari lagu pertama sampai akhir konser. Penonton remaja umumnya berdiri, meskipun ada kursi. Di depan saya, sempat ada penonton yang berdiri di atas kursi tetapi langsung ditegur oleh pihak keamanan. Jadi, maksudnya, kita boleh berdiri di depan kursi  tetapi tidak boleh sampai naik ke kursi.

Di tengah panggung terdapat satu layar raksasa dan dua layar kecil di sisi kanan dan kiri. Taylor Swift sendiri terlihat sangat kecil dari tempat kami menonton karena jaraknya jauh sekali….tapi Devani tetap sangat puas menonton idolanya secara langsung.

IMG-20140605-WA008
Perbandingan ukuran Taylor Swift “asli” di panggung dengan tampilan di layar raksasa di tengah panggung

Menurut Devani, tidak pernah ada huru-hara di konser Taylor Swift di mana pun juga karena para “Swifties” tergolong fans yang “baik-baik”. Di Jakarta, “Red Tour” juga berjalan lancar dengan stadion yang penuh terisi penonton.

Kondisi Bubaran Show

Ketika show berakhir, tidak perlu berebut ke luar arena karena penonton yang bubar harus antri juga untuk turun menggunakan escalator. Kami masih duduk-duduk di dalam arena sekitar 15 menit karena anak-anak justru ingin berlama-lama berada di dalam arena show.

Antrian untuk turun escalator setelah bubaran
Antrian untuk turun escalator setelah bubaran

Saya tidak melihat ada fasilitas ‘car call’ di Ancol Beach City dan saya khawatir jika ada gangguan di handphone saya atau di handphone supir saya. Sebab itu, saya janjian dengan supir untuk bertemu di pintu Lobby Utama Ancol Beach City pada jam bubaran konser.

Keluar dari parkiran, tentunya dengan mengantri tetapi karena suasana masih “excited” membahas show yang baru ditonton, lamanya antrian tidak terlalu dirasakan.

Awalnya, saya sempat terpikir untuk menginap di salah satu hotel di Ancol sehingga tidak perlu ditunggui supir…namun ternyata jarak antara MEIS ke hotel terdekat cukup jauh sehingga tidak bisa berjalan kaki.

 

Secara umum, saya sangat senang dan puas menemani Devani menonton idolanya. Mungkin dua atau tiga tahun mendatang jika Taylor Swift mampir lagi ke Jakarta, saya sudah bisa melepas Devani nonton bersama teman-temannya saja tanpa ditemani orang tua.

 

 

UK….I Miss You!

Sejak lahir sampai sekarang, saya tinggal di Jakarta…berarti sudah lebih dari 40 tahun saya menjadi warga Jakarta….kecuali selama satu tahun di periode 1997 – 1998,  saya mendapat kesempatan emas untuk menjadi warga Inggris…tepatnya warga Manchester atau biasa dikenal sebagai ‘the Mancunian’. Saya sebut sebagai kesempatan emas…karena saya tinggal dan bersekolah di Inggris dengan gratis! Saat itu saya mendapatkan beasiswa dari The British Council untuk kuliah S2 di sana (thank you so much, British Council!).  Penerima beasiswa bebas memilih mata kuliah dan tempat kuliah yang diminati di salah satu perguruan tinggi di Inggris dan takdir membawa saya sampai ke Manchester.

Kartu Mahasiswa dan Kartu Perpustakaan

Setelah kembali dari Inggris di bulan September 1998, saya belum pernah balik lagi ke Inggris. Enam belas tahun telah berlalu dan tiba-tiba saya kangen berat untuk kembali ke tanah Britania Raya setelah melihat di blog  tetangga, ada Mister Potato mengadakan ‘blog contest’ dengan hadiah utama #InggrisGratis….! Wow!!! Apa yang membuat saya kangen dengan Inggris? Banyaaak…. Karena kompetisi “Ngemil Eksis Pergi ke Inggris” ini tujuannya ke 7 ikon Inggris atau 7 Stadion Legendaris Inggris, maka berikut saya sajikan 7 hal yang bikin saya kangen dengan Inggris.

  1. Saya kangen dengan cuaca Inggris….

“How’s the weather today?” adalah topik pembicaraan paling populer untuk membuka percakapan di Inggris. Cuaca di sana sangat tak menentu, sebab itu warganya banyak berpegang pada kecanggihan ramalan cuaca untuk menentukan kegiatan sehari-hari. Bagi saya yang selama ini tinggal di Jakarta dengan alternatif cuaca hanya panas atau hujan (meski hujan, tetap saja panas juga), rasanya seru banget untuk merasakan kedinamisan cuaca di Inggris.

Saya beruntung sempat merasakan keempat musim yang menjadi kekhasan negara-negara Barat. Musim gugur dengan warna-warni yang indah, musim dingin dengan es dan salju yang sebelumnya hanya ada di angan saya, musim semi yang ‘menumbuhkan’ berbagai bunga dan tanaman baru dan musim panas yang benar-benar panas. Selain memiliki empat musim, sebagai negara yang berbentuk pulau dikelilingi oleh lautan, Inggris terkenal dengan anginnya yang kencang, bukan angin puyuh tentunya tapi cukup membuat kita berjalan sempoyongan. Meskipun saya sempat juga mengeluh mengenai cuaca di sana (seperti yang sering dikeluhkan juga oleh orang-orang lokal), saat ini saya ingin menikmati kembali cuaca Inggris yang penuh drama itu.

  1. Saya kangen dengan “British accent”….

Saya sudah belajar Bahasa Inggris sejak kelas 2 SD, nilai Bahasa Inggris saya di raport selalu bagus dan sebelum saya berangkat ke Inggris pun saya mengikuti kelas persiapan Bahasa Inggris, tapi ketika saya berhadapan dengan supir bis di Manchester…saya ternyata tidak mengerti apa yang dikatakannya dan dia juga tidak mengerti pertanyaan saya…ooooh….saya sempat ‘shock’ menghadapi kenyataan itu. Baru setelah beberapa minggu beradaptasi dengan aksen lokal, saya merasa nyaman berkomunikasi dengan warga lokal.

Ternyata belajar “listening” melalui bintang-bintang film Inggris seperti Mr. Bean alias Rowan Atkinson (yang bicaranya memang minim), James Bond dan Hugh Grant (my favourite British actor) tidak terlalu banyak membantu karena yang saya hadapi sehari-hari di sana adalah warga lokal, bukan bintang film internasional.

Meskipun banyak orang bilang agak sulit memahami aksen Inggris, bagi saya, “British accent” lebih sexy daripada “American accent”…meski yang bicara seorang supir bis sekali pun.

  1. Saya kangen belanja di Inggris….

Sebagai ‘anak beasiswa’ di Inggris, apalagi mengajak suami (padahal jatah tunjangan hidup hanya untuk satu orang), keadaan ekonomi saya di sana masuk dalam kategori ‘mepet banget’. Tentunya, saya pernah berkunjung ke Harrods dan Baker Street yang menjadi icon tempat belanja di London atau ke Debenhams yang waktu itu belum ada di Jakarta, tetapi saya lebih kangen berbelanja di pasar-pasar ‘tradisional’ di Inggris.

Saya kangen ke pasar barang-barang ‘second hand’ yang menjual mulai dari TV bekas sampai peralatan makan. Saya kangen bertemu pedagang di pasar lokal yang harga barangnya bisa ditawar-tawar (maklumlah…perempuan di mana saja suka menawar). Saya kangen ke toko agen koran dan majalah yang sudah hafal dengan koran kesukaan suami saya dan selalu memberi harga ‘khusus mahasiswa’ buat kami.

Dunia ritel tradisional Inggris lebih menarik bagi saya karena bisa mempertemukan saya dengan ‘the real British’, tidak terjebak dengan konsumerisme yang utamanya diciptakan untuk menarik turis berbelanja.

  1. Saya kangen dengan berita selebriti Inggris…

Media Inggris sama seperti media di negara mana pun, termasuk di Indonesia, senang memberitakan kabar selebriti. Di tahun ’97-an itu…berita terheboh antara lain tentang kisah asmara antara David Beckham dan Victoria “Posh” Spice Girl. Maklumlah, mereka berdua memang sedap dipandang mata dan sedang ngetop….Manchester United dan Spice Girls benar-benar sedang berkibar jaya pada masa itu. Pemberitaan tentang mereka selalu jadi hiburan buat saya. Sampai sekarang, saya masih belum ‘move on’ dari “The Beckhams”. Meskipun mereka tidak muda lagi, berita tentang mereka tetap menarik bagi saya.

The Royal Family juga tergolong ‘selebriti’ di Inggris. Berita kecelakaan maut Princess Diana di Paris pada tahun 1997 itu menjadi berita utama terus-menerus di semua media di Inggris. Kebetulan sekali saya berada di London pada saat Inggris berduka. Saya masih terkenang dengan atmosfir duka cita yang mendalam dari rakyat Inggris yang tumpah ruah di jalan-jalan utama London. Di depan gerbang utama Buckingham Palace, Kensington Palace (kediaman Princess Diana) dan di Harrods (toko milik keluarga kekasih Princess Diana), ribuan karangan bunga diletakkan warga Inggris.

Suplemen khusus harian "The Mirror" tahun 1997
Suplemen khusus harian “The Mirror” tahun 1997

Karena nge’fans’, saya masih menyimpan beberapa majalah edisi khusus tahun 1997 yang menulis tentang Lady Diana, saya juga membeli perangko edisi Princess Diana yang menjadi salah satu koleksi favorit saya sampai sekarang.

  1. Saya kangen dengan denyut Liga Inggris….

“Waaah….asyik banget kuliah di Manchester….bisa nonton bola terus…” itu adalah komentar yang sering saya terima dari kenalan ketika tahu bahwa saya (pernah) tinggal di Manchester. Kenyataannya, ketika saya pergi ke Manchester, saya bukanlah penggemar bola…nggak ‘ngerti’ aturan main bola dan nggak kenal nama-nama pemain Manchester United (kecuali David Beckham, karena dia ganteng). Namun setelah beberapa bulan tinggal di Manchester, perlahan tapi pasti, “jiwa” bola itu masuk ke dalam diri saya. Bola bukan saja permainan 90 menit di lapangan hijau…it’s much more than that! Melihat para fans MU bergerombol di jalanan di hari-hari pertandingan, lengkap dengan “yell-yell” dan pakaian unik, terus-terusan melihat pemberitaan tentang liga Inggris di media massa dan ikutan nonton bola di TV bersama suami, akhirnya membuat saya jatuh cinta pada bola, khususnya dengan club Manchester United.

Prestasi Manchester United di musim 1997 – 1998 tergolong biasa saja, tapi bagi warga Manchester (termasuk saya waktu itu dan sampai sekarang)…. Manchester United is always in our heart (waktu itu Manchester City belum bermain di divisi utama).

Meski tinggal di Manchester selama setahun, nyatanya, saya hanya pernah satu kali mengunjungi markas Manchester United di Old Trafford atas undangan pemberi beasiswa, British Council untuk sebuah acara mereka. Acaranya diadakan di malam hari dan sayang sekali, kami tidak diajak melihat ke lapangannya. Gemes juga rasanya diundang ke Old Trafford tetapi tidak melihat lapangannya, tetapi apa daya…ketika itu pun, ticket masuk menonton pertandingan di Old Trafford sudah mahal.

Sekarang, saya sudah jadi ibu dari dua anak, yang besar perempuan (14 tahun) dan yang kecil laki-laki (13 tahun). Anak laki-laki saya gemar main bola dan senang nonton pertandingan bola. Sejak dia mulai bermain bola di usia 7 tahun….sudah saya ‘brainwash’ untuk menjadi fans Manchester United. Meski dia bertumbuh menyukai beberapa team lainnya…tetap saja saya belikan atribut Manchester United.

Koleksi Jersey MU milik anak saya :-)
Koleksi Jersey MU milik anak saya 🙂

Jadi, kalau Mister Potato berkenan mengajak saya jalan-jalan ke Old Trafford, saya bisa menuntaskan keinginan saya yang belum kesampaian yaitu melihat lapangan bola Old Trafford (semoga kali ini diajak melihat lapangannya)…waaaah, it’s one of my dream!

  1. Saya kangen dengan kuliner Inggris….

Kalau dalam hal keragaman makanan, masakan Indonesia masih lebih bervariasi dibanding Inggris. Bagi saya, ‘fish and chips’ adalah ‘icon’ makanan Inggris. Kepopulerannya mungkin bisa disamakan dengan pecel lele-nya Jakarta, tetapi yang saya “kangenin” dari Manchester adalah makan ‘pie’ (di sana disebut ‘pasty’) di pinggir jalan, apalagi di musim dingin. ’Pie’ yang masih hangat mengepul di suhu yang dingin lalu langsung kita makan, bikin badan jadi hangat sungguh sensasional! Antrian di tempat ‘pie’ favorit saya selalu panjang, tetapi saya selalu rela mengantri.

Suami dan saya juga punya tempat langganan pizza murah-meriah…cuma 2 poundsterling untuk seloyang pizza. Juru masaknya juga sudah hafal dengan pesanan favorit kami: Prawn and Cheese Pizza dan kami selalu minta agar pizzanya dipanggang sampai garing sekali. Mereka menggunakan oven tungku dan kulit pizza-nya tipis. Di restaurant mungil itu juga tersedia sambal yang enak…saya tidak suka pedas, tapi suami saya kangen pedas selama tinggal di Inggris dan sambal pizza ini lumayan enak.

Orang Inggris suka sekali makan ‘chips’….kripik kentang, seperti Mister Potato dan saya ‘ketularan’ kebiasaan ini. Apa pun makanannya, saya selalu tambahkan chips…makan roti pakai chips, makan sup pakai chips, makan pisang pakai chips…. Pokoknya pengalaman makan apa pun jadi tambah menyenangkan jika ada chips-nya.

Satu lagi ‘tradisi’ Inggris yang terbawa terus sampai sekarang adalah minum teh! Orang Inggris sangat gemar minum teh, biasanya dengan susu. Jenis tehnya sangat bervariasi, tetapi kegemaran kami adalah “English Breakfast Tea” (biasa disingkat ‘EBT’). Susu harus dituangkan terlebih dahulu ke cangkir teh, barulah teh panas dituangkan sehingga paduan rasa susu dan teh menjadi optimal…begitulah yang saya pelajari dari orang lokal. Bagi orang Inggris, minum teh adalah kegiatan sosial, sambil duduk ngobrol dengan keluarga atau teman menikmati secangkir teh dan biskuit. Oooh…it’s so British!

  1. Saya kangen almamater saya….

“Last but not least”….setelah lulus S2 enam belas tahun yang lalu, tentu saya kangen untuk mengunjungi kembali kampus saya di Manchester yaitu di University of Manchester. Kampusnya terletak di Oxford Road, dengan gedung-gedung kampus yang antik di sisi kiri dan kanan jalan. Kampusnya tidak mewah tapi ‘homy’ dan fasilitasnya lengkap.

Cikal bakal universitas ini sudah dibangun di tahun 1851 dan terus diperluas dengan menggabungkan beberapa institusi pendidikan lainnya di Manchester. Bangunan-bangunan tua tetap dipertahankan sampai sekarang sehingga kompleks kampus ini juga merupakan ‘icon’ kota Manchester.

 

Nah…ketujuh hal di ataslah yang bikin saya kangen dengan Inggris…. Hal-hal kecil dari keseharian saya dan suami selama setahun tinggal di Manchester selalu menjadi kisah manis kami berdua dan sekarang sering kami ceritakan kepada kedua anak kami.

Buat saya, Inggris bukanlah sekedar tujuan wisata tetapi sumber inspirasi yang tiada habisnya.

Bersama Mister Potato kembali ke Inggris
Bersama Mister Potato kembali ke Inggris

“UK….I really miss you!”

 

Tulisan ini diikutsertakan pada ‘blog contest’ “Ngemil Eksis Pergi ke Inggris” dari Mister Potato Indonesia.

Follow twitter-nya di @MisterPotato_ID dan kunjungi Fanpage-nya di Mister Potato Indonesia

About Me

Sudah lama tertarik untuk membuat blog, akhirnya hari ini saya memulainya. Better late than never….  Saya seorang Ibu dari dua anak remaja, perempuan, usia 13 tahun dan laki-laki usia 12 tahun. Suami adalah seorang konsultan. Kami sekeluarga senang jalan-jalan dan selalu memilih untuk berpetualang sendiri, tanpa ikut rombongan tour. Blog ini utamanya  berisi kisah-kisah perjalanan kami (semoga makin sering dapat kesempatan untuk jalan-jalan). Semoga bermanfaat untuk orang lain.