Tag Archives: liburan ke bali

Pengalaman Pertama Snorkeling

Saya dan anak-anak adalah penggemar pantai tetapi selama ini tidak terpikir untuk snorkeling. Barulah ketika kami berencana liburan ke Bali, saya mengusulkan ke Devani dan Maxi untuk snorkeling di Bali. Maxi langsung tertarik karena di kolam renang pun dia lebih senang menyelam daripada berenang. Devani tidak terlalu tertarik untuk snorkeling…dia lebih senang main di pantai saja katanya. 

OKlah liburan kali ini kita akan mencoba snorkeling…saya mulai browsing tempat-tempat snorkeling di Bali yang direkomendasikan untuk pemula seperti kami. Ada beberapa pantai, khususnya di Bali Timur seperti di daerah Padang Bai dan Candi Dasa yang tampaknya menarik tetapi perjalanan cukup jauh dari tempat kami menginap di Legian (Bali Selatan). Akhirnya karena kami sudah berencana untuk mengikuti Beach Club trip dari Bali Hai ke Nusa Lembongan dan ada kegiatan snorkeling di perjalanan itu, maka kami putuskan untuk snorkeling di Nusa Lembongan saja.

Setelah pilih tempat tujuan snorkeling, saya mulai mencari informasi tentang peralatan snorkeling yang direkomendasikan untuk pemula. Dari hasil baca-baca berbagai blog, pada dasarnya peralatan snorkeling terdiri dari mask, snorkel, mouthpiece (bagian dari snorkel yang dimasukkan ke mulut) dan fin (sepatu katak). Sebenarnya, program Bali Hai yang kami ikuti sudah termasuk peminjaman peralatan snorkeling, namun karena kami ingin coba-coba dulu sebelum benar-benar snorkeling di lautan lepas, saya tertarik untuk beli peralatan snorkeling pribadi.

Sampailah saya di website http://www.alatselam.com dan saya langsung tertarik untuk mengunjungi tokonya di Mangga Dua Square, Ruko E No. 31. Sebenarnya, kita bisa membeli barang yang kita inginkan secara online dari website tersebut tetapi karena saya belum familiar dengan barang-barang dan berbagai merk yang ditawarkan, saya putuskan untuk datang langsung saja.

Tak sulit mencari toko “Alat Selam” ini. Lokasinya di deretan ruko Mangga Dua Square. Cari saja Blok E lalu toko ini terletak nyaris di ujung, nomer 31. Dari luar, sudah terlihat jelas bahwa toko ini adalah spesialis penjual peralatan snorkeling dan diving. Merk yang mereka jual antara lain adalah dari Amscud (sebenarnya penulisannya AmScuD = American Scuba Divers) dan Cressi. Karena saya tidak (tepatnya ‘belum’) berencana untuk diving, maka fokus pencarian saya adalah pada peralatan snorkeling saja.

 IMG-20140628-01923

Ketika browsing di website mereka, saya sudah memilih kira-kira peralatan snorkeling dari merk apa yang akan saya beli. Saya hanya berencana untuk membeli satu mask, satu snorkel dan tiga mouthpiece. Kenapa beli mouthpiece sampai tiga? Mouthpiece bisa dilepas dari snorkel-nya dan ukurannya standard. Jadi rencananya, kalau nanti saya pinjam snorkel di Bali Hai Beach Club, saya akan ganti mouthpiece pinjaman dengan mouthpiece saya sendiri. Yang pasti akan snorkeling adalah saya dan Maxi…lalu saya beli tambahan satu mouthpiece, jika Devani atau suami saya akhirnya tertarik untuk snorkeling.

IMG-20140628-01924
Display di toko Alat Selam
IMG-20140628-01925
Silakan dipilih….

Ketika saya ke sana, kebetulan toko Alat Selam sedang menawarkan beberapa jenis paket. Ada paket lengkap terdiri dari mask, fin, snorkel. Ada juga yang hanya mask + snorkel saja. Sesuai rencana, saya mengambil paket mask + snorkel. Pilihan saya adalah pada merk Amscud. Harga paket yang saya ambil adalah Rp 525.000,- dengan gratis tas untuk membawa peralatan tersebut. Saya pilih snorkel yang “hyperdry” karena sebagai pemula, saya tidak mau kebingungan dengan air laut yang masuk ke dalam snorkel saya. Untuk mask, juga dari Amscud, jenis Alpha.

Mask + mask strap, snorkel, mouthpiece and bag. All from Amscud.
Mask + mask strap, snorkel, mouthpiece and bag. All from AmScuD.

Tambahan lain yang saya beli adalah mouthpiece dari Amscud seharga Rp 35.250,- per satuannya. Mask strap Rp 40.500,- antifog spray 30 ml Rp 49.500,- Semua harga ini adalah setelah didiscount 25%. 

Saya puas datang langsung di toko Alat Selam karena saya bisa banyak bertanya kepada penjaga tokonya. Sebagai pemula seperti saya, lebih enak belanja ‘copy darat’ di toko daripada via online.

Sampai di Bali…kami mencoba menggunakan peralatan snorkeling kami di kolam renang hotel. Lumayanlah untuk membiasakan bernafas melalui mulut lewat snorkel. Saya juga mencoba memotret sambil menyelam menggunakan waterproof camera. Masih merasa agak ribet untuk motret sambil menyelam. Hanya ada beberapa underwater photos yang lumayan bagus ketika Maxi sedang asyiiik menyelam di kolam.

Digital Camera Digital Camera 

Pada Hari-H…yaitu Sabtu, 5 Juli 2014, kami snorkeling di Nusa Lembongan. Akhirnya Devani tertarik juga untuk ikut dalam snorkeling trip. Jadi, kami berlima (saya dan 2 anak, kakak saya dan 1 anak) ikut dalam rombongan yang akan dilepas untuk snorkeling di tengah laut. Kami bersama sekitar 20-an peserta dibawa dengan kapal kecil menuju dermaga kecil di tengah laut. Dari dermaga tersebut, kami bebas terjun ke laut lepas yang sudah diberi batas (supaya tidak kebablasan).

Karena saya hanya punya satu mask dan satu snorkel, kami meminjam peralatan dari Beach Club. Ketika saya lihat, ternyata kebersihan peralatannya baik sehingga saya tidak jadi menggunakan mouthpiece pribadi. Saya juga meminjam life-vest karena agak ragu dengan kemampuan snorkeling saya. Hanya Maxi yang tidak merasa perlu untuk menggunakan life-vest.

Ternyata enak juga snorkeling di laut lepas….jauh lebih enak daripada ketika saya mencoba snorkeling di dekat pantai karena ombak di pantai lebih kuat sementara di tengah laut (mungkin kebetulan) ombaknya lebih tenang. Kami berlima semuanya bisa berenang dengan baik, tetapi belum pernah snorkeling sebelumnya. Adaptasi kami cukup cepat dan kami menikmati acara ini.

Penggunaan life-vest sangat membantu jika anda tidak mau susah payah berenang karena dengan life-vest, anda sudah pasti akan terapung di laut. Namun untuk snorkel-nya, saya merasa lebih nyaman menggunakan snorkel pribadi saya yang ‘hyperdry’ karena air laut sama sekali tidak masuk. Sementara snorkel pinjaman dari Bali Hai tampaknya bukan jenis yang ‘hyperdry’ sehingga ketika saya coba pakai, beberapa kali saya mengalami air laut masuk ke snorkel saya.

Maxi malah akhirnya melepas semua peralatan snorkeling-nya. Dia berenang di laut hanya dengan kacamata renang biasa.

Pemandangan bawah laut di Nusa Penida mungkin tak seindah daerah snorkeling lain yang sudah tersohor seperti Bunaken dan Raja Ampat, tapi bagi saya yang baru pertama kali snorkeling, pengalaman pertama ini sungguh berkesan. Yang jelas, membuat saya ingin snorkeling lagi.

Advertisements

Suatu Siang di Cafe Bali

Di hari kedua, saya dan anak-anak makan di Cafe Bali yang lokasinya masih di daerah Seminyak, tepatnya di Jalan Oberoi. Cafe Bali terletak tepat di pinggir jalan, jadi tidak ada tempat parkir jika anda membawa kendaraan. Jalan Oberoi selalu ramai, bahkan saat ini, hampir selalu macet. Ada begitu banyak restaurant lain di Jalan Oberoi ini dan hampir semuanya ramai karena populer di kalangan turis, baik asing maupun lokal.

IMG-20140704-01955
Mari mampir ke Cafe Bali

Beberapa restaurant memasang daftar menu mereka di pinggir jalan…menurut saya ini adalah “open policy” yang baik diterapkan…. Calon pengunjung bisa melihat dulu makanan/minuman yang ditawarkan sekaligus harganya. Kalau cocok…silakan mampir….. Tidak cocok? Carilah restaurant lainnya.

IMG-20140704-01952
Daftar Menu dipasang di pinggir jalan.

Begitu memasuki Cafe Bali, langsung terasa suasana artistiknya. Di setiap meja, ada mangkok yang terbuat dari (kalau tidak salah) aluminium yang diisi dengan bunga segar berwarna kuning yang sangat atraktif. Taplak mejanya berwarna biru dengan gambar bunga kuning dipadu dengan hiasan bunga segar kuning ini.

IMG-20140704-01948
Apa ya nama bunga ini?

Interior Cafe Bali bukanlah tradisional Bali, meskipun ada sentuhan Bali di sana-sini. Bahan kayu yang dicat putih mendominasi Cafe Bali sehingga terkesan bersih, klasik dan ‘homy’.

IMG-20140704-01951
Paduan warna taplak biru dan hiasan bunga kuning yang cantik
IMG-20140704-01950
Area Bar Cafe Bali
IMG-20140704-01949
Interior restaurant didominasi oleh kayu

Kalau soal pilihan makanan, Cafe Bali menyediakan makanan Barat maupun Timur. Siang itu, kami sendiri memesan Western menu. Maxi memesan “Fish and Chips” dengan chips yang diganti menjadi nasi. Devani memesan “Ravioli with cheese sauce” dan saya pesan “Caesar Salad”. Harga makanan berkisar dari Rp 50.000,- sampai Rp 120.000,- per porsi. Rasa makanannya lumayan meski menurut saya tidak sangat istimewa. 

Pengunjung di Cafe Bali umumnya turis asing. Siang itu kebanyakan pengunjungnya adalah keluarga yang membawa anak-anak kecil yang makan siang di sana. Mungkin lain lagi gambaran pengunjung Cafe Bali di malam hari. Di Cafe Bali tersedia area Bar sehingga tampaknya tempat ini juga populer untuk ‘night hang out’.

IMG-20140704-01947
Special order “Fish and Rice” bukan “Fish and Chips” (Maxi’s lunch)
IMG-20140704-01945
Ravioli with cheese sauce (Devani’s lunch)
IMG-20140704-01944
Caesar Salad (my lunch)
IMG-20140704-01953
Ada Western Food, ada juga Asian Food
IMG-20140704-01954
Gambaran kisaran harga makan di Cafe Bali

Tak ada yang istimewa dengan makanan dan minuman di Cafe Bali, tapi saya sangat terkesan dengan suasana dan interior Cafe Bali ini. 

 

The Best Iced Milo in Bali at Tommy’s Cafe, Legian

Kami tiba di Bali menjelang jam makan siang…. Sebenarnya kami sudah makan di pesawat dalam perjalanan menuju Bali sehingga kami belum terlalu lapar ketika tiba di Bali. Setelah mengantar barang-barang kami ke hotel, kami bergerak menuju daerah Legian yang tak jauh dari hotel.

Dari hasil ‘riset’ saya di Trip Advisor, ada sebuah restaurant kecil di daerah Legian yang menyediakan “the best iced Milo”. Karena Devani, Maxi dan saya adalah penggemar Milo, maka review para pengunjung di Trip Advisor mengenai resto ini membuat saya sangat tertarik untuk mencobanya.

“Tommy’s Cafe” nama restonya, terletak di Jl. Werkudara, Legian. Agak sulit mencari resto ini karena ukurannya kecil, papan namanya nyaris tak terlihat. Tidak ada tempat parkir untuk mobil. Jika anda diantar supir, sebaiknya bikin janji bagaimana nanti supir akan menjemput anda setelah selesai makan.

Digital Camera
Inilah banner nama Tommy’s Cafe

Tommy’s Cafe memiliki area indoor dan teras. Karena tempat di dalam sudah penuh, saya dan anak-anak duduk di teras meski cuaca panas lumayan terik. Tampaknya, Tommy’s Cafe sangat populer di kalangan turis Australia dan New Zealand mungkin karena menunya cocok bagi mereka jika mereka kangen dengan makanan ‘lokal’ mereka. Kami adalah satu-satunya kelompok “non-bule” yang berkunjung di Tommy’s Cafe siang itu.

Digital Camera

Begitu duduk, pramusaji membawakan handuk dingin….langsung kami pakai untuk mengurangi rasa panas terik matahari.

 

Digital Camera
Iced Milo (kiri) dan Iced Coffee (kanan). Sooo yuuummy!

Sesuai rencana setelah melihat review di Trip Advisor, kami memesan dua Iced Milo untuk Maxi dan saya. Devani memesan Iced Coffee. Harga Iced Milo dan Iced Coffee ‘hanya’ Rp 16.000,- per gelas. Menurut kami, harganya sangat wajar untuk standard minuman di cafe. “Bagaimana rasanya?” Hmmm…benar-benar enaaaak! Iced Milo-nya beda dengan Milo ‘Dinosaurs’ yang banyak dijual di Kopitiam Singapore dan Jakarta. Iced Milo di Tommy’s Cafe sepertinya dibuat dengan blender. Rasanya “Milo banget”, tidak terlalu manis, paduan susu dan Milo-nya pas menurut saya. Apalagi cuaca siang itu panas terik…minum Iced Milo rasanya cocok banget! Saya bukan penggemar kopi, tapi menurut Devani, Iced Coffee-nya juga nikmat.

Tommy’s Cafe menyediakan ‘all day breakfast’ menu. Karena kami tidak terlalu lapar, maka pilihan kami jatuh pada menu breakfast-nya.

Maxi memilih menu klasik ‘bacon and eggs’. Meskipun Maxi sebenarnya lebih senang makan nasi, tapi siang itu dia tidak keberatan untuk makan roti.

Digital Camera

Sayangnya saya lupa nama makanan yang saya pesan. Saya memilih ini karena saya merasa perlu makan banyak sayuran…dan saya tidak kecewa dengan pilihan saya. Sayurnya banyak tapi tidak sampai berlebihan.

Digital Camera

Devani yang memang porsinya makannya selalu sedikit hanya memesan ‘French Toast’ dengan cinnamon and sugar untuk ditaburi ke rotinya.

Digital Camera

Selain makanan ini, kami juga pesan ‘french fries’…untuk makanan pendamping saja.

Harga makanan yang kami pesan berkisar antara Rp 40.000,- sampai Rp 50.000,-. Sayangnya, saya tidak sempat memotret daftar menunya. Variasi makanannya banyak, semuanya “Western food” khususnya makanan Australia dan New Zealand. Bahkan penjual koran keliling yang mampir di Tommy’s Cafe juga menjual koran Australia!

Yang perlu diantisipasi…butuh waktu lama untuk menunggu makanan/minuman pesanan kita. Kami yang tadinya belum lapar, jadi lapar karena lama menunggu pesanan. Selain waktu yang panjang, meja yang tersedia juga terbatas dan biasanya pengunjung bertahan untuk waktu yang lama. Pokoknya, kalau ke Tommy’s harus benar-benar punya waktu…tidak terburu-buru dan nikmati saja suasananya.

 

 

 

 

Pantai Ramai dan Pantai Sepi

Saya ingin mengajak Devani dan Maxi ke beberapa pantai Bali dengan karakter yang berbeda. Ketika menyusun rencana liburan ini, saya memasukkan jadwal kunjungan ke pantai setiap hari. Karena kami menginap di daerah Legian, maka di hari kedatangan, setelah makan siang, kami menuju Legian Beach.

Legian Beach terletak di daerah Selatan Bali, merupakan salah satu pantai ‘klasik’ yang mudah dijangkau sehingga banyak sekali dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing. Di sekitar Pantai Legian juga banyak toko-toko yang menjual baju-baju khas Bali dan souvenir.

Kami tiba di Pantai Legian menjelang pukul 3 siang, masih panas, tetapi sudah lewat dari puncak terik matahari siang. Devani dan Maxi mempunyai tujuan yang berbeda jika mengunjungi pantai. Maxi selalu ingin masuk ke air…bermain ombak bahkan berenang di laut jika memungkinkan. Devani hanya berada di pantai, main pasir pantai dan foto-foto. Saya….kali itu tidak terlalu mau masuk air, jadi memilih untuk berada di pantai saja.

Pantai Legian sangat komersil. Begitu kami memasuki wilayah pantai, langsung didekati oleh orang yang menawari kursi pantai. Harganya Rp 50.000,- untuk dua buah kursi pantai dan payungnya. Karena sore itu kami tidak siap dengan handuk pantai, akhirnya kami menyewa dua kursi dari salah satu orang yang mendekati kami. Tampaknya harga agak sulit ditawar (atau saya yang kurang ngotot untuk menawar) karena beberapa orang yang mendekati kami menawarkan harga dan kondisi yang persis sama.

Tak butuh waktu lama, Maxi sudah ‘nyemplung’ ke laut….sebenarnya saya agak khawatir karena ombak saat itu cukup kuat. Ada beberapa orang yang juga masuk ke laut, umumnya sedang belajar main surfing. Pakaian Maxi untuk main di laut selalu dengan celana pantai (banyak sekali dijual di Bali dengan harga di bawah Rp 30.000,-) dan T-shirt. Celana pantainya terbuat dari bahan yang ringan dan cepat kering sehingga enak untuk dipakai berenang ke laut. Maxi selalu membawa handuk dan baju ganti lengkap sampai ke underwear-nya jika bermain ke laut sehingga setelah puas main di laut, dia bisa bilas (tanpa sabun, yang penting sudah dibilas dengan air tawar) lalu ganti baju kering.

Devani dan Maxi juga sempat bermain pasir…. Saya juga senang membuat istana pasir, meskipun bentuknya tidak canggih. Namun sore itu, hanya Devani dan Maxi yang membuat Maxi menjadi “putra duyung”. Yaaah….anak-anak Jakarta yang jarang ketemu pasir pantai…jadi maklumlah kalau mereka girang sekali ketemu pantai dan pasir.

Pantai berikutnya yang kami kunjungi di hari kedua kami di Bali adalah Pantai Geger di kawasan Nusa Dua (juga di Selatan Bali). Pantai Geger lebih sepi dibandingkan dengan Pantai Legian. Pengunjung yang berada di Pantai Geger kebanyakan turis asing yang berjemur di pantai. Kami tiba di Pantai Geger juga setelah makan siang, cuaca panas…membuat Maxi langsung masuk ke laut.

Perjalanan menuju Pantai Geger melewati jalan tol baru yang dibangun di atas laut. Selalu ikuti petunjuk arah ke Nusa Dua, lalu ikuti arah ke “Pantai Geger”. Petunjuk arah cukup jelas, apalagi jika supir anda adalah orang Bali lokal, pastilah tidak akan nyasar.

Di pinggir Pantai Geger ada beberapa hotel, yang terbesar adalah Mulia Hotel. Pengunjung tetap boleh bebas bermain di pantai meski bukan tamu hotel tersebut. Tidak terlalu banyak pedagang keliling dan kami juga sudah siap membawa handuk pantai sendiri sehingga kami tidak menyewa kursi pantai. Ombak di Pantai Geger tidak sedahsyat di Pantai Legian, tetapi pantai dan airnya lebih bersih.

Setelah selesai bermain di pantai, kami diperbolehkan menggunakan pancuran air untuk bilas…tanpa dipungut biaya. Sambil menunggu Devani dan Maxi membersihkan diri dan ganti baju, saya sempat duduk-duduk di salah satu restaurant yang terletak di pantai sambil minum kelapa muda. Harga kelapa muda di batok adalah Rp 25.000,- menurut saya cukup wajarlah. Tak ada yang terlalu istimewa dari restaurant tersebut, saya adalah satu-satunya tamu restaurant di siang hari itu.

Setelah bersih, sudah ganti pakaian kering, pulanglah kami dari Pantai Geger kembali ke hotel.

Pada hari ketiga, yaitu Sabtu, 5 Juli 2014, kami mengikuti Bali Hai Beach Club Cruise menuju Nusa Lembongan. Tulisan tentang Bali Hai Cruise akan saya buat terpisah agar ceritanya lebih terfokus.