Images

“Trash Management” in Singapore

Saya kagum dengan kebersihan kota Singapura. Begitu banyak orang berada di jalanan sambil makan dan minum, tapi kotanya tetap bersih. Pengaturan pembuangan sampah di lokasi umum juga tampaknya dipatuhi warganya.

Tidak hanya di jalanan, transportasi umum di Singapore juga bersih. Larangan untuk makan dan minum di dalam kendaraan umum sangat dipatuhi warganya (dan juga turis), mungkin karena ancaman denda tinggi tetapi bisa jadi karena kesadaran warganya akan kebersihan sudah tinggi.

Saya sempat mengamati seorang ibu yang bepergian bersama anak balitanya di dalam MRT. Tak sengaja, anaknya menjatuhkan selembar tissue ke bawah bangkunya. Si Ibu yang melihat tissue terjatuh, langsung menyuruh anaknya untuk memungut tissue itu dan menyimpannya dulu di dalam tas si anak karena tidak ada tong sampah di gerbong MRT. Jelas terlihat bahwa kebiasaan baik untuk “membuang sampah pada tempatnya” sudah mendarah daging di warga Singapore dan diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya.

Kapan ya Jakarta bisa sebersih Singapura?

Advertisements

Lin Ice Cream: I Scream Ice Cream!

Sebagai penggemar ice cream, saya dan keluarga selalu ingin mencoba tempat-tempat yang menjual ice-cream enak. Kali ini tujuan kami adalah Lin Artisan Ice Cream di daerah Kemang. Lin ice cream dibuat dengan liquid nitrogen…serupa dengan gaya pembuatan ice-cream di Ron’s Laboratory.

Inilah  “janji” Lin Ice Cream kepada customers-nya:  “Every cup of Lin artisan ice cream is made from all natural ingredients. The mix is frozen right in front of you to give a whole new sensorial experience. They contain no preservatives, no colourings and no flavourings.”

Harga ice creamnya berkisar di Rp 30.000,-  sampai Rp 40.000,- . Selain ice-cream dan snack, di sana juga ada berbagai variasi coffee dan corner “Papabubble” yaitu custom-made candy yang imut-imut.

Hari Minggu kemarin, kami pergi hanya bertiga…saya bersama suami dan putri kami, Devani. Tiga ice-cream pesanan kami adalah “Choco Chips” (Rp 39.000,-), “Milo” (Rp 41.000,-) dan “Nutella” (Rp 45.000,-). Penyajiannya tidak istimewa…., tetapi rasanya memang mantap! Sangat creamy dan terasa susunya.

Yang istimewa adalah penataan interiornya yang bergaya minimalis dan dibuat senyaman berada di living room rumah anda sendiri. Dengan majalah-majalah yang disediakan di sana, anda bisa berlama-lama duduk-duduk di Lin Ice-cream.

Tempat ini enak untuk nongkrong sambil ngobrol-ngobrol santai, meski lokasinya tidak berada di mall sehingga tidak bisa dikombinasikan dengan kegiatan belanja lainnya.

Alamat Lin Ice Cream:

Jalan Taman Kemang 1 No. 6

Linicecream.com

Twitter: @linicecream

Telephone: 021 71794393

“Rumah” Kami di Semarang: Crowne Plaza Hotel

    

 

Last but not least tentang liburan kami ke Semarang adalah Crowne Plaza Hotel, tempat kami menginap selama tiga malam sejak tanggal 30 Januari sampai 2 Februari 2014. 

Rombongan keluarga besar kami dari Jakarta berjumlah 16 orang sepakat memilih Crowne Plaza Hotel dengan berbagai pertimbangan:

– Lokasi strategis, menyatu dengan Paragon Mall, tepatnya di Jl. Pemuda No. 118.

– Skor “Fantastic 8.4” menurut versi http://www.agoda.com

– Harga reasonable jika dibanding dengan beberapa hotel lainnya di Semarang dengan fasilitas serupa

Akhirnya, kami memesan enam kamar dan semuanya mendapat kamar di Lantai 17 yang merupakan lantai teratas dari hotel tersebut. Meski tidak bisa mendapatkan kamar-kamar yang bersebelahan, tetapi jarak antara kamar cukup dekat…, pastinya lebih dekat dari jarak antara rumah-rumah kami di Jakarta sehingga anak-anak puas “bertamu” di “rumah” sepupu-sepupu dan Omanya selama kami tinggal di hotel.

Secara umum, kami puas dengan Crowne Plaza Hotel. Lokasinya benar-benar strategis, kami bisa masuk mall dari pintu yang terdapat di lantai lobby hotel. Sangat memudahkan jika kita harus membeli air minum, snack, mau ke ATM dan keperluan lainnya. 

Pelayanan staf hotel juga sesuai standard hotel berbintang lima….ramah dan efisien. Meski kami sempat menunggu cukup lama ketika check-in karena kamar belum semuanya siap tetapi hal itu bukan masalah besar. 

Yang menarik bagi saya dan anak-anak adalah karya seni “Warak” yang terbalut batik, diletakkan di sisi lobby menuju pintu ke arah Paragon Mall. Awalnya saya mengira, itu adalah patung kuda yang dipajang untuk menyambut “Tahun Kuda” karena kami berada di sana menjelang perayaan Lunar New Year. Namun ternyata itu adalah patung “warak”. 

Warak adalah makhluk imajinatif yang melambangkan percampuran budaya di Semarang. Kepalanya menyerupai naga (dari budaya Cina), tubuhnya seperti buraq (budaya Arab) dan empat kakinya menyerupai kambing (budaya Jawa). Wow….ternyata maknanya sangat mendalam!

Pengalaman yang juga berkesan selama menginap di Crowne Plaza adalah anginnya yang sangat kencang pada saat kami masuk-keluar dari drop off pintu utama. Angin kencang ini juga dirasakan di area kolam renang yang berada di lantai sembilan sehingga akhirnya anak-anak batal berenang di hotel. Saya tak tahu apakah angin kencang itu berkaitan dengan musim hujan yang sedang berlangsung atau memang merupakan kondisi yang menetap. 

Menurut keluarga Semarang yang mengunjungi kami di hotel, agak sulit memarkir kendaraan di hotel tersebut. Kami sendiri tidak merasakan hal ini karena kami menggunakan mobil dan driver dari car rental, tetapi anda mungkin perlu mempertimbangkan ini jika membawa kendaraan sendiri atau akan ada kenalan yang berkunjung ke hotel.

Foto kamar hotel, rasanya lebih baik dilihat dari website resmi Crowne Plaza Hotel karena saya tidak sempat mendokumentasikan kamar kami sebelum jadi berantakan oleh barang-barang kami……

http://www.ihg.com/crowneplaza/hotels/us/en/semarang/srgpc/hoteldetail

 

Makan Apa di Paragon Mall, Semarang?

Kami menginap di Crowne Plaza Hotel yang terletak di atas Paragon Mall, Semarang. Sebab itu, tak heran jika kami beberapa kali mengunjungi Paragon Mall selama kami menginap di Crowne Plaza.

Untuk makan siang pertama kami di Semarang, kami mengunjungi food court Paragon Mall yang dinamai Robuchon. Seperti food court pada umumnya, di sana terdapat berbagai variasi food outlet yang siap kita pilih. Sistem pembayaran menggunakan kartu yang diberikan pada saat kita memasuki food court (tiap orang mendapat satu kartu). Jika kita memesan makanan di outlet, kita diminta menyerahkan kartu tersebut, lalu petugas outlet memasukkan data pesanan di kartu kita. Pada saat kita keluar dari Robuchon, kita membayar makanan-minuman kita di Cashier.

Devani dan Maxi memesan pizza dari Doremi Pizza yang porsinya cukup besar dan menurut mereka lumayan rasanya. Suami dan saya kali ini tidak terlalu “berpetualang”…, kami memilih Saboga saja.

Di hari berikutnya, kami bersantap pagi di Kopitiam Bangi yang merupakan “franchise” dari kopitiam Malaysia. Suasana kopitiam cukup nyaman dengan interior bergaya Melayu. Di Kopitiam Bangi, saya memesan roti kaya…yang menurut saya kurang cantik penampilannya. Jika anda ingin “nongkrong”, tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan karena lokasinya di lantai bawah dengan pandangan ke arah luar Paragon Mall.

Sebenarnya tentu ada banyak sekali pilihan makanan di Paragon Mall, namun karena kami banyak mempunyai acara makan di tempat lain bersama keluarga, kami hanya sempat dua kali makan di mall. Informasi lebih lanjut mengenai outlet restaurant maupun toko-toko lain di Paragon Mall dapat dilihat di www.paragonsemarang.com

Mengenal Taro Anggro

Meski belum seterkenal Goa Maria Sendangsono atau Goa Maria Kerep, Taman Rohani Taro Anggro ini menarik untuk dikunjungi jika anda sedang berada di Jawa Tengah. Taro Anggro atau lengkapnya Taman Rohani Anggrung Gondok terletak di lereng Gunung Sindoro, menghadap ke Gunung Sumbing. Lokasi ini sangat indah karena di hari yang cerah, pengunjung bisa melihat kedua gunung tersebut dengan jelas. Hawanya pun sejuk sehingga kunjungan ke Taro Anggro tidak terasa melelahkan meski cukup jauh dari Semarang, kota awal perjalanan kami.

Bagi kedua anak kami, Devani dan Maxi, ini adalah pertama kalinya mereka mengunjungi tempat wisata rohani. Perjalanan dari Semarang ditempuh selama sekitar tiga jam dengan melalui pemandangan alam yang indah di sepanjang perjalanan; kami tiba di Taro Anggro lewat pukul sebelas pagi.

Taro Anggro diresmikan pada tanggal 12 Juni 2010 oleh Bapak Bupati H. Kholik Amal dan diberkati oleh Mgr. Julianus Sunarka SJ. Di kompleks Taro Anggro terdapat rute Jalan Salib yang relatif “mudah” (tidak menanjak dan tidak terlalu jauh), Goa Adorasi Sakramen Maha Kudus, Kapel (ruang tertutup) dan Altar Salib Suci (untuk misa di tempat terbuka).

Beberapa informasi penting yang saya ambil dari brosur Taro Anggro adalah sebagai berikut:

Alamat: Jl. Raya Wonosobo – Temanggung Km. 16, Desa Anggrung Gondok, Kec. Kertek, Kabupaten Wonosobo.

Misa Kudus diselenggarakan setiap Hari Minggu pukul 10.00. Jika anda datang dengan rombongan dan ingin diadakan misa, anda dapat menghubungi Sekretariat dengan contac person: Bp. Petrus Supri 0878 3435 3839 / 0812 2125 2932, Mbak Iin Aquilina 0813 2726 4127 atau dengan Romo Suparmanto MSC di 0815 4207 2744.

Setiap Minggu ke-4 mulai Bulan September s/d Mei diselenggarakan Perayaan Ekaristi untuk Novena Hati Kudus Yesus. Juga ada Perayaan Ekaristi setiap Kamis Malam Jumat Kliwon pukul 19.00 WIB.

Karena “usia” tempat ini memang relatif baru, bangunan-bangunan yang ada di kompleks ini juga tampak baru. Desain-nya diusahakan untuk menyatu dengan alam yang indah.

Saat ini, belum terlalu banyak peziarah yang mengunjungi Taro Anggro. Fasilitas pendukung yang ada di sekitar kompleks ini masih terbatas, sehingga jika anda berencana untuk berkunjung sana dalam kelompok besar, sangat disarankan untuk membuat pengaturan yang rapi (misalnya untuk penyediaan makan, penyelenggaraan misa maupun penginapan jika diperlukan) dengan pihak pengelola Taro Anggro.

Ketika kami ke sana, sedang dibangun penginapan sederhana (home-stay) di kompleks Taro Anggro. Namun tampaknya jumlah kamar yang direncanakan tidak terlalu banyak.

Durian Matang Pohon

Durian Matang Pohon

Dalam perjalanan dari Semarang menuju Temanggung, kami melewati daerah penjual durian matang pohon. Bagi saya dan anak-anak, sangat menarik melihat begitu banyaknya durian di pohon yang sudah diikat dengan tali agar tidak jatuh ke tanah ketika sudah matang di pohon. Anda dapat membeli langsung dari penduduk lokal yang banyak membuka lapak di sepanjang jalan tersebut. Harga sebuah durian yang dijual di pinggir jalan adalah Rp 50.000,- (belum ditawar).